How About You?

CASTs:

  1. Choi Minho
  2. Kim Hye Rim

Author-POV

Choi Minho duduk sendiri di bangku kantin sambil mengaduk-aduk jus jeruk miliknya. Jinki sahabatnya yang sibuk dengan yeojachingunya, Taemin yang sibuk dengan kelas musiknya dan Kibum yang sibuk sendiri dengan sekolahnya. Minho merasa dirinya yang paling santai dan tak mempunyai kesibukan. Ring ding dong ring ding dong terdengar ponsel milik Minho berdering, ia segera menekan tomobol answer, “yoboseyo…” ucapnya setelah teleponnya menempel ditelinganya. “mwo? Jincha? Ne appa.. aku akan menjemputnya..ne..bye” Minho terlihat senang menjawab telepon dari appanya. Tentu saja, karena sahabat kecilnya akan segera tiba di Seoul dan ia wajib untuk menjemputnya.

***

Hari ini Minho libur dan sudah bersiap pergi ke bandara untuk menjemput Han Hye Rim, sahabat terbaiknya. Minho mengendarai mobil secepat mungkin, padahal jam masih menunjukan pukul 9 pagi sedang pesawat Hye Rim mendarat pukul 10. Setelah tiba di bandara, Minho berdiri kurang lebih setengah jam menunggu sahabatnya tiba. Ia melihat sekeliling mencoba mencari keberadaan sahabatnya itu. “Mana Hye Rim?.. walau sudah hampir 3 tahun lebih tak bertemu, aku tak mungkin tak mengenalinya.” Gerutu Minho.

Hye Rim menarik koper miliknya. Ia hanya membawa satu tas jinjing dan sebuah koper dari Tokyo. Ia berjalan celinga-celinguk mencari seseorang, sampai akhirnya ia tersenyum melihat seseorang yang juga sedang sibuk celingak-celinguk sendiri. Hye Rim menghampiri namja itu dan menepuk bahunya, “oppa..??” panggil Hye Rim yang sentak membuat Minho kaget. Minho menatap Hye Rim dari ujung kepala hingga kaki. Penampilan Hye Rim sangat santai, hanya menggunakan T-Shirt panjang dan celana levis setinggi pahanya, rambutnya diikat satu kebelakang, poninya menutupi kening. Minho perlahan tersenyum melihat Hye Rim dihadapannya, “Hye Rim….ahhh” Minho segera memeluk Hye Rim dan Hye Rim sentak melepaskan tas dan kopernya. “oppa..” keluh Hye Rim.

Minho segera memasukan tas dan koper Hye Rim kedalam mobilnya yang berwarna hitam dan mengantar Hye Rim ke apartementnya. “hmm.. ku kira kau sudah lupa padaku” gumam Minho dengan tetap berkonsenterasi menyetir. “tentu saja tidak  oppa.. wajah pabbo mu itu takkan pernah hilang dari ingatanku” goda Hye Rim dan Minho sedikit meliriknya tajam. “hahah just kidding oppa..” Hye Rim segera menjelaskan takut Minho marah duluan.

Choi Minho_POV

Hari ini aku pergi lebih pagi untuk menjemput Hye Rim, karena ia akan satu sekolah denganku sekarang. setelah sampai didepan pintu kamar apartementnya aku segera menelponenya, “yoboseyo..” jawab Hye Rim, “cepat keluar jelek…. Kita bisa terlambat nanti… ppalli!!” aku langsung menutup ponselku. Seketika pintu apartement Hye Rim terbuka, kulihat ia sudah rapih dengan seragam sekolah dan tasnya. Ia mengikat setengah rambutnya menggunakan pita hijau dengan tetap membiarkan poni depannya menutupi keningnya. “kajja!!” teriaknya bersemangat.

Sampai disekolah aku mengatarnya keruang kepala sekolah dan menungguinya hingga keluar. “Dimana kelasmu?” tanyaku cepat, “hmm 2A1..” jawabnya sambil berpikir. Aku menarik tangannya menuju kelas yang ia sebutkan tadi, “wahh sekolahmu hebat juga ya oppa.. semuanya serba otomatis..” mukanya kagum melihat pintu ruang kelasnya terbuka sendiri, “jangan norak..masuklah…” aku mendorongnya menuju satu meja yang aku sudah tahu siapa yang menempatinya. “Minho?..” Shin Hee segera berdiri melihatku datang, “annyeong..” sapaku pada Shin Hee menunduk. Melihat Hye Rim yang hanya berdiri diam tanpa menyapa aku memegang belakang kepalanya dan mendorongnya kebawah membuat ia menjadi menunduk paksa. “oppa….” Keluh Hye Rim. “apa dia yang kau ceritakan semalam minho??..” tanya Shin Hee dengan menahan tawanya, “ne.. kenalkan dia Hye Rim.. kuharap kau bisa menjaganya..”ucap Minho seraya merangkul pundak Hye Rim, “ohh ne.. Shin Hee imnida..” balas Shin Hee.

Aku meninggalkan Hye Rim dan Shin Hee di ruang kelas mereka. Aku berharap mereka bisa berteman baik karena Hye Rim belum memiliki teman sekarang ini.

Aku duduk istirahat di salah satu bangku dilapangan basket. “minho… mana sahabatmu yang kau ceritakan?” Taemin menghampiriku dengan nafas yang masih tersengal-sengal. “hmm mungkin ada dikelasnya” jawabku singkat sambil meneguk air mineralku. “hmm kudengar sekelas dengan Shin Hee dan Hyorin ya?” tanya Taemin lagi, aku hanya membalas dengan anggukan.

***

            Aku menunggu tepat di depan pintu gerbang sekolah bersama Taemin, Jinki dan Kibum. Hari ini Jinki eomma mengundang kami makan malam di rumahnya. Kibum yang berbeda sekolah dengan kami pun ikut serta, ia mampir untuk pergi bersama-sama dengan kami. “aishhh lama sekali sihhh…” keluh Jinki yang mondar-mandir sejak tadi. “ehh lihat… itu mereka!” teriak Taemin melihat 3 yeoja berjalan santai kearah kami. “aduhh lama sekali sihh jalannya..” aku ikut mengeluh karena keadaan diluar sini sangat dingin. “hei!! Ppalli!!!!” teriak Jinki. Beberapa saat kemudian Shin Hee, Hye Rim dan Hyorin pun berada tepat didepan kami. “kalian ngapain aja sih? Lama!!!” cetus Jinki mendekat pada yeojachingunya (Shin Hee), “mianhae.. ehhe” jawab Shin Hee terkekeh. “hei.. kau pasti Kim Hye Rim ya??.. aku Taemin… bangapseumnida..” Taemin mendekat dan memperkenalkan dirinya pada Hye Rim. “ahh ne.. bangapseumnida…” Hye Rim tersenyum, “ehh kalian berdua yang mana Jinki oppa dan Kibum oppa?” lanjut Hye Rim menunjuk pada Jinki dan Kibum. “dia Kibum.. dan Dia Jinki” jawabku, “ne.. bangap seumnida” jawab Kibum dan Jinki bersamaan, “aku kan tidak bertanya padamu oppa…” ucap Hye Rim sinis. Pletakkkk aku menjitaknya, “sudah..ayo masuk…” aku menarik tangannya dan membukakan pintu mobil agar dia segera masuk,  “aduhhh….” Gerutunya sambil mengelus-elus kepalanya.

***

Aku menggandeng Hye Rim masuk kedalam rumah Jinki, “oppa.. rumahnya besar sekali ya…??” bisik Hye Rim mendekat ketelingaku, “jangan norak dehhh… rumahmu di Tokyo dua kali lebih besar dari ini” jawabku terus memandang kedepan. Hye Rim diam hingga kami semua masuk kedalam rumah. “ohh kalian semua sudah tiba…..” Jinki Eomma berjalan menghampiri kami diruang tamu, “loh..? kau..??” Jinki eomma terlihat kaget melihat Hye Rim. “lohh eomma mengenalnya?” tanya Hyorin yang melihat Jinki eomma menghampiri Hye Rim. Kami semua memang memanggil orang tua masing-masing seperti orang tua kami sendiri jadi sudah terbiasa Hyorin memanggil eomma pada Jinki eomma. “annyeong eomma..” sapa Hye Rim sambil tersenyum manis, mereka berdua langsung berpelukan seperti ibu dan anak yang dipisahkan dan dipertemukan kembali. “ohh dear… how are you? Sepertinya kau kurusan” tanya Jinki eomma pada Hye Rim, “fine eomma.. hehe” jawab Hye Rim. Kami semua masih terpana dengan pemandangan yang kami lihat sekarang tak terkecuali aku.

“jadi begitulah… Tokyo mempertemukan kami, dan aku mendapat sosok eomma lagi hehe” rangkum Hye Rim setelah bercerita panjang lebar tentang ia dan Jinki eomma. Setelah acara cerita antara kami selesai, kami semua menuju meja makan untuk makan malam. “kibum oppa.. mengapa kau berbeda sekolah?…” tanya Hye Rim tiba-tiba saat acara makan sudah dimulai, “hmm.. itu.. karena aku..hmm..” Kibum terlihat gugup menanggapi pertanyaan Hye Rim. Plakkk aku memukul kepala Hye Rim dengan sendok yang tersisa, “sudah makan…” perintahku dan Hye Rim hanya menunduk menurut.

Kim Hye Rim_POV

Yang menarik perhatianku sejak pertama mengenal mereka semua hanya kibum oppa. Dia terlihat berbeda, tapi bukan berarti aku menyukainya, hanya menarik perhatian. “Shin Hee… sudah berapa lama kau pacaran dengan Jinki oppa?” tanyaku saat kami semua selesai makan dan berkumpul di halaman belakang rumah Jinki oppa, “hmm… berapa lama ya?? 3 sampai 5 bulan , mungkin-__-.” Jawab Shin Hee asal. “lohh kok mungkin sih Shin Hee…?” tanyaku lagi, plakk“heh jelek…!! Kenapa kau tak memanggil eonnie pada Shin Hee dan Hyorin.. tidak sopan” Minho oppa kembali memukul kepalaku dengan tutup toples yang di pegangnya. “aduhh oppa…!!!” keluhku lagi. “hahaha memang berapa usiamu? Kita semua kan seangkatan…” lanjut Hyorin yang bertanya sambil menahan tawanya, “hmm 16..” jawabku asal, “ehh 15… 3 bulan lagi baru kau berusia 16..” cetus Minho oppa. “wahh masih muda…” ucap Taemin. “ehh Kibum oppa.. berapa usiamu?” aku  tiba-tiba melihat kibum oppa yang sejak tadi hanya diam. “hmm bulan depan 17 tahun” jawab Kibum oppa sedikit gugup.

Setelah berbincang cukup lama akhirnya kami semua berpamitan pada eomma. “Kibum oppa.. dimana rumahmu?” tanyaku lagi sebelum kami semua naik kedalam mobil. “Hye Rim.. sejak tadi kau memperhatikan kibum terus?” cetus Jinki oppa yang sedang bersiap-siap mengantar Shin Hee eonnie pulang (terpaksa manggil eonnie kalau gak bisa dijitak terus sama Minho oppa). Aku hanya terkekeh sebentar dan melanjutkan pandanganku pada Kibum oppa, “hmm didekat apartement Shine” jawabnya singkat, “rumahmu dulu atau apartementnya dulu?” tanyaku lagi, “hmm apartement” jawabnya agak bingung dengan pertanyaanku. “heii kami duluan ya…bye…” suara Hyorin onnie dan Taemin sedikit mengganggu percakapanku. “ne..bye”. plakkk “sudah ayo pulang” perintah Minho oppa sambil memukul kepalaku dengan pulpen miliknya. “hmm oppa.. aku pulang bersama Kibum oppa ya?.. bye… kajja… oppa..!!” tanpa menunggu jawaban dari Minho oppa aku langsung menarik tanga Kibum oppa. Jinki oppa dan Shin Hee eonnie hanya menatapku bingung.

Author_POV

Diperjalanan Minho hanya terus memikirkan Hye Rim. ‘apa dia menyukai Kibum?’ pertanyaan itu yang terus muncul dalam benaknya yang membuatnya tidak konsenterasi menyetir. ‘bagaimana jika benar?’ tanyanya dalam hati lagi. “ommona!!! Ani ani ani…. Aku tidak boleh memikirkan hal yang tidak-tidak seperti ini!” gerutu Minho sambil mengacak-acak rambutnya dengan satu tangan.

Hye Rim terus memandang wajah Kibum sepanjang perjalanan ‘dia kenapa ya?’ pertanyaan itu selalu timbul ketika melihat kibum yang terdiam. “hmm oppa” tegurnya saat kibum masih berkonsenterasi menyetir mobil merahnya. “ne..” jawab kibum singkat. “kau sedang patah hati ya?” tanya Hye Rim penasaran. ‘mengapa yeoja ini bisa tahu? Apa dia bisa membaca pikiranku?’ tanya kibum dalam hatinya. “mwo??” hanya kata itu yang bisa dikatakan oleh Kibum. “hmm mau cerita tidak?..” tanya Hye Rim lagi dengan wajah yang masih serius, “hmm ceritanya panjang” jawab Kibum lemas, “aku punya banyak waktu” .

***

            Hye Rim dan Kibum berhenti ditaman dekat apartemnt Hye Rim. Kibum mulai bercerita semuanya mulai dari ia menyukai seorang yeoja, lalu menyatakan cintanya, dan Hye Rim akhirnya tahu alasan Kibum berbeda sekolah dengan teman-temannya, itu karena dulu ilen (yeojachingu Kibum) sekolah di Seoul International School, sekolah Kibum sekarang. Dulu? Yap… Ilen dulu sekolah disana, tetapi sekarang sudah tidak. Bukan karena ia pindah ataupun dikeluarkan, Ilen meninggal kurang lebih setengah tahun yang lalu, itu membuat Kibum sangat terpukul hingga bersikap diam seperti ini, yahh setidaknya itu kesimpulan yang Hye Rim terima.

“hmm.. I’m sorry to hear that oppa..” wajah Hye Rim berubah menjadi mimik kasihan. “ne…gwaechan” jawab Kibum dengan sedikit tersenyum. Kibum tak tahu apa yang menjadi alasannya mau menceritakan itu semua pada Hye Rim, tapi menurutnya Hye Rim yeoja yang asik untuk diajak bicara. “oppa.. sudah malam… sebaiknya kau pulang.. aku tinggal jalan sedikit keapartemntku… ayo cepat pulang!!” Hye Rim bangkit dari kursinya diikuti Kibum dan mendorong Kibum menuju mobil yang di parkir di pinggir jalan, “jumuseyo..” kalimat terakhir Kibum sebelum pergi meninggalakan Hye Rim.

***

            “aaaahhh!!!!!!! Brukkk!!!!” Minho membanting setir yang mengakibatkan mobilnya menabrak sebuah pembatas jalan. Darah bercucuran dari kepalanya yang terbentur setir mobil. semua orang berkerumun mengelilingi mobil Minho dan ambulance pun segera membawanya kerumah sakit terkdekat.

Hye Rim mengganti bajunya dengan celana pendek dan tengtop (author gk tahu tulisannya) hijau. Ia membuat secangkir cappucino dan meminumnya sambil menonton televisi. Ia mendengar ponselnya berdering, dengan tetap membawa cangkir cappucinonya ia menjawab telepon. “ne.. yoboseyo…mwo??” praanngg Hye Rim menjatuhkan cangkirnya dan pecah. Ia segera mengambil sweaternya dan memakainya. Ia berlari keluar apartement dan menghentikan sebuah taxi. “seoul hospital” perintahnya cepat. Pandangannya cemas, tangannya tak bisa berhenti untuk saling meremas antara tangan kiri dan kanan. Wajahnya pun langsung memucat, ia menerima telepon dari rumah sakit bahwa Minho kecelakaan dan sedang dirawat disana.

Sampai dirumah sakit ia langsung bergegas ke resepsionis, “sus.. dimana Minho-ssi.. yang baru saja kecelakaaan” tanya cepat dengan tetap gemetar karena panik dan udara dingin yang ia rasakan. “di kamar sakura 303” jawab suster itu setelah mengubek-ubek buku pasiennya. Tanpa mengucapkan terimakasih, Hye Rim langsung berlari menuju kamar yang disebut suster tersebut. Ia celingak-celinguk mencari kamar yang dimaksud. “ohh itu dia!!” ia manghembuskan nafas setelah melihat kamar yang dimaksud susuter tadi. Ia segera berlari kearah kamar tersebut krekk  ia langsung membuka pintu kamar. “huh..ehh..huh” nafasnya masih belum teratur, ia melihat Minho terbaring dengan bantuan oksigen dihidungnya dan infus ditangannya. Ia duduk disampingnya dan mengelus lebut kening minho yang di perban karena luka. “pabo…” gumam Hye Rim pelan.

***

            Mata Minho terasa sangat berat, tetapi ia dengan sekuat tenaga berusaha membuka matanya. Perlahan-lahan ia bisa merasakan cahaya lampu merasuk ke matanya dan silau. Ia menggerakan tangannya sedikit, ia mulai bisa membuka matanya saat ia sadar ada seseorang yang sedang menggenggam tangannya. Minho menoleh kearah orang yang memegang tangannya, kepalanya tertunduk. ‘sepertinya ia tidur’ gumam Minho dalam hati. Menyadari disampingnya dalah Kim Hye Rim, Minho pun bangun dan  mengelus lembut rambutnya. “hmmm..” Hye Rim mulai terbangun dari tidurnya,  “sudah puas tidurnya?” tanya minho sambil melebarkan senyumnya kearah Hye Rim. “ppabo!!! Pabbo!!pabo!!! bagaimana bisa kecelakaan?.. oppa stupid!” Hye Rim langsung tersadar dan memukul-mukul dada bidang Minho. “aduhh sakit tahu!!!” keluh minho sambil mengelus-elus dadanya. “hmm sakit? Aduhh mianhae….” Hye Rim baru sadar bahawa Minho baru saja mengalami kecelakaan dan segera mengelus lembut dada Minho. “kau sejak kapan disini?.. segitu paniknya kah kau hingga menungguku siuman? Hah?” goda Minho sambil mengerlipkan matanya pada Hye Rim. “panik? Aku bukan hanya panik… aku khawatir tahu!! Bagaimana jika kau koma, jika kau tak sadarkan diri.. jika kau tak bisa masuk sekolah lagi, jika kau lumpuhhh.. jika kau mat…” suara Hye Rim berhenti ketika Minho menutupnya dengan tangannya. “shut up… I’m fine.. okay”

***

            Selama kurang lebih satu minggu dirawat akhirnya ia sudah diperbolehkan untuk pulang. “aihh kemana yeoja jelek itu sih?” tanya Minho yang sudah siap untuk pulang di temanin oleh Taemin. “hmm molla.. kajja!” Taemin membantu membawa brang-barang Minho kedalam mobil dan mengantar Minho pulang.

“kau benar-benar tidak tahu dia kemana?” tanya Minho saat perjalanan pulang. Taemin hanya menggeleng tidak tahu. Selama perjalan Minho hanya mengutak atik ponsel miliknya mencoba mengirim pesan dan menelpone Hye Rim tapi tak ada balasan ataupun jawaban sama sekali dari Hye Rim. “kemana sih???!!!” keluh Minho. Taemin disampingnya hanya diam dan menatap kedepan terus menyetir.

Sampai dirumah, Minho langsung ditinggal oleh Taemin. Minho sekarang sendiri dirumah, orang tuanya pergi dan pembantu dirumahnya juga izin pulang kampung karena anaknya sakit. “kesialan apa lagi yang menimpaku..ohh sesange!!!” gerutu Minho sambil melempar tubuhnya ke sofa depan televisi. “saat aku mendapatkan kebahagiaan semuanya datang menghampiri, sekarang saat aku sedang mengalami musibah…kemana mereka semua?… sahabat kurang ajarrr!!!!” Minho kesal dan melemparkan bantal kebelakang. “Aduhh!!!!” teriak Hye Rim yang ternyata sejak tadi sudah berada disitu. “lohh.. kau..” Minho bangkit dan menghampiri Hye Rin. “yeoja jelek!!! Kemana saja kau?? Mengapa tak mengangkat teleponku, atau setidaknya membalas pesan dari ku … hah???” Minho menatap Hye Rim tajam yang hanya dibalas dengan senyuman dari Hye Rim. “menemani Kibum oppa.” Jawabnya singkat seraya berjalan ke dapur. Minho mengikuti Hye Rim dari belakang, “ohh ya.. Jinki oppa dan Shin Hee eonnie tidak bisa datang karena mereka harus mengikuti lomba, Hyorin eonnie juga ada pemotretan dan minta di antar Taemin oppa.. kalau Kibum oppa…hmm dia…dia sedang melaksanakan tugasku” Hye Rim bercerita panjang lebar memberi alasan pada Minho sambil membuat segelas cappucino.

“kau lapar?” tanya Hye Rim setelah selesai membuat cappucinonya. “sangat… ayo masak untukku!” teriak Minho bersemangat. “malas ah” jawab Hye Rim singkat. Minho yang mendengar jawaban Hye Rim menjadi kesal dan mengambil panci yang ada dihadapannya dan memukul kepala Hye Rim. Plaakkk “oppa!!! Sakit!!!!” teriak Hye Rim setelah panci itu menyambar di keningnya. “masak… aku tunggu di depan TV” perintah Minho. Hye Rim menurut dengan kesal.

Choi Minho_POV

aku menunggu di depan televisi hingga Hye Rim datang dan memebawakan semangkuk makanan. “kau masakan apa?” tanyaku seraya berdiri melihat mangkuk yang iya bawa. “makan… awas ya.. tidak dihabiskan..kubunuh kau!” gertak Hye Rim. “ramen -__-.” Gumamku pelan dan kecewa. “wae? Tidak suka?!!!” cetus Hye Rim sambil mengacungkan spatula kearahku. “ahh ani ani.. suka..suka.. mana” aku segera mengambil mangkuk ramen dan memakannya dengan lahap. Aku sempat melihat senyum senang di bibir Hye Rim.

Setelah selesai makan, Hye Rim masih berada di samping menonton televisi. Aku memandangnya rekat, melihat keseriusannya menonton drama di televisi. Ku pandangi ia dengan seksama, dek entah mengapa jantungku seakan berdetak dua kali lebih cepat. Rambut Hye Rim terurai dan menggunakan jepitan kelinci kecil di sebelah kanan dan kiri, poninya masih tetap berada di depan keningnya. Ku tatap wajahnya, aku baru menyadari bahwa Hye Rim memiliki mata yang indah, hidungnya kecil mancung, bibirnya tipis kemerahan, aku tahu dia tidak menggunaka lipstick, karena dia tidak suka itu. “oppa…?” aku tersadar saat wajah Hye Rim sudah berada 10 cm didepanku. “ahh hmm MWO???!!” tanyaku gugup, “kau lihat apa???” tanta Hye Rim lagi dengan menyipitkan matanya, “ani..ani…” aku mengangkat kedua tanganku setinggi dada dan mengibaskannya. “hmm??” tatapan Hye Rim makin tajam. “hmm Hye Rim…” panggilku tanpa memperdulikan tatapannya. “ne..?” sahut Hye Rim.

Aku berusaha tak menatap matanya yang terus menatapku. “oppa… wae?” tanyanya memperjelas. “hmm.. boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku cepat dengan tetap tak memandangnya. Plakk  “ahh” keluhku yang sudah terkena pukulan spatulanya, “tentu saja.. mwo?” jawabnya. Aku berusaha tak menggubris pukulannya, “kau dan Kibum..hmm maksudku.. kibum.. ehh bukan… hmm maksudku” entah apa yang terjadi aku menjadi gugup. “oppa.. ahmm emm ehh amm.. kau sebenarnya mau bertanya apa ? kajja…ppali!!” gerutunya. “hmm apa kau menyukai Kibum?” aku memejamkan mataku ketika selesai menanyakan itu. Takut jawabannya akan menyakitiku, tak ada suara sama sekali dari Hye Rim. Kubuka mataku dan menoleh kearahnya, kulihat iya tertunduk. Sepertinya aku tahu apa yang akan iaya katakan ‘iya..atau tentu saja atau bahakan kok oppa tahu?’ semua kemungkinan jawaban Hye Rim melayang-layang di otakku. “HAHAHHAHAHAHHAHAH” tiba-tiba Hye Rim tertawa terbahak membuatku kaget. “kok ketawa?” tanyaku kesal, “oppa oppa… kau lucu sekali sihhh.. HAHHAHA” ia tetap melanjutkannya dengan tawa, “Hye Rim… aku serius..!!!” gertakku yang membuat dia langsung membungkam mulutnya. “hmm ok..ok.. Minho oppa ku… sahabatku… aku sama sekali tak menyukai Kibum oppa.. memang nya ada apa oppa? Lagian kalau aku suka pada Kibum oppa memang salah?” Hye Rim memegang kedua pundakku dan tersenyum kecil. “hm aniyo.. aku hanya bertanya… tapi, pokoknya kau tidak boleh menyukai Kibum.. titik!!!” ucapku. “ok siap!!!” Hye Rim berdiri dan memberi hormat. “sudah.. aku pulang ya.. bye bye…”

Kim Hye Rim_POV

Entah rencanaku pada Kibum oppa dan Shi Ra berhasil atau tidak. Walaupun mereka tidak bisa dekat seperti uang kuharapkan setidaknya mereka bisa berteman. Ohh ya, aku memang mengenalkan Kibum oppa pada Shi Ra sahabatku di Tokyo yang ajaran tahun depan akan pindah ke sekolah ku sekarang. aku mengenalkannya lewat YM (yahoo messenger..tahu kan?). aku menyuruh mereka mengobrol lewat YM, karena mereka memiliki masalah yang sama tentang cinta, mungkin saja kan mereka bisa saling bertukar pikiran. Aku tidak suka melihat Shi Ra selalu murung bergitu juga dengan Kibum oppa.

Aku berjalan keluar kelas saat pulang sekolah tiba. Walau sudah waktunya pulang sekolah, tetapi disini masih sangat ramai, karena banyak siswa yang mengikuti ekstrakulikuler. “sudahku bilang… kali ini aku lagi yang menang!” aku mendengar suara Shin Hee eonnie yang berhadapan dengan Jinki oppa. “ohh, jadi kau bangga?” tanya Jinki oppa. Aku hanya memperhatikan mereka, hmm sedikit menguping sebenarnya. “ohh tentu saja… sekali lagi kau kalah dariku” ucap Shin Hee eonnie sambil bertolak pinggang. “araseo!.. kalau begitu kau akan mendapatkan hadiah dariku” balas Jinki oppa. Aku memperhatikan Jinki oppa yang semakin lama semakin mendekat pada Shin Hee eonnie. “HEH!!” aku sontak kaget dan berbalik kebelakang karena ada yang menepukku. “aihh oppa.. kau mengganggu deh” gerutuku dan berbalik lagi kedepan. Aku sudah tak melihat Shin Hee eonnie dan Jinki oppa disana. “tuhh kan..oppa sih…jadi gak lihat deh”gerutuku kesal sambil terus berjalan kearah taman sekolah.

Minho oppa mengikutiku dari belakang. “memang kau lihat apa tadi?” tanyanya tiba-tiba dan sudah berdiri didepanku setelah aku sampai di taman sekolah yang sudah sepi. “secret” jawabku singkat. Minho oppa tak beralih dari hadapanku, dia terus menatapku tajam. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan, tapi jantungku mualai berdetak tak karuan melihat tatapannya yang bagi para yeoja mematikan itu.  Aku berbalik menghindari tatapan Minho oppa sambil menggulung-gulung buku yang aku pegang. Aku memang sempat membelakangi Minho oppa tetapi oppa langsung memegang pundakku dan membalikannya lagi membuatku menghadap kearahnya lagi. “m..mw..mwoo?” tanyaku tergagap. Minho oppa terus menatapku, “apa kau hanya menganggapku sahabat?” tanya Minho oppa langsung membuatku bingung. “mm..m.maksudmu?” tanyaku lagi dengan masih tergagap. “apa kau memiliki perasaan apapun padaku?” tanyanya lagi yang langsung membuatku menelan ludah, membuat jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. “hmm..aa..” aku mencoba mengatakan sesuatu yang aku sendiri juga bingung kalimat apa yang harus aku ucapkan. “saranghae” ucap Minho oppa yang membuatku mendongak menatapnya kaget, wajah Minho oppa makin dekat dan mengarah ketelingan kiriku “saranghaeyo Kim Hye Rim…jeongmal saranghaeyo” ucapnya semakin jelas kudengar. aku seperti batu yang hanya berdiri, Minho oppa sudah menarik wajahnya menjauhi telingaku. Aku masih terus berpikir, mencoba menggunakan akal sehatku. ‘apa aku juga mencintainya? Apa iya? Jika tidak..mengapa jantungku berdetak sangat cepat..jika tidak mengapa terselip rasa gembira dihatiku..ohh sesange!’ teriakku dalam hati. “Hye Rim…” tegur Minho oppa.

Aku mulai tersenyum melihat Minho oppa didepanku. Mencoba mengatakan sesuatu yang seharusnya aku ucapkan. “hmm oppa..” panggilku menatap minho oppa. “ne.. how about you?” tanyanya menatapku. “hmm nn..nado….” jawabku cepat, entah Minho oppa mendengarnya atau tidak. “mwo?” tanyanya mendekatkan telinganya padaku. “saranghae..” ucapku cepat dan membalikkan tubuhku. Aku sudah merasa wajahku berubah warna, aku rasa sudah menyamai warna tomat dipasar swalayan. Aku merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggangku, pelan-pelan aku merasakan pelukan dari Minho oppa. “gomawo” ucapnya lirih. Aku segera menggeliat melepaskan pelukannya…dan berhasil. Aku menghadap kearahnya lagi, menatapnya tajam. Tiba-tiba wajah Minho oppa mendekat kewajahku, jantungku mulai mempercepat detaknya, sekarang jarak wajah ku dan wajah Minho oppa hanya 5 cm. PLAKKKKKK!!! aku memukul kepala Minho oppa dengan buku yang aku gulung tadi. “hahahah” tawaku sambil berlari. “Hye Rim!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s