Niga nomu bogosipeo (Part II The Last Part)

Casts :

  1. Lee Hyuk Jae
  2. Doo Joon
  3. Hyun Ri

Cerita Sebelumnya

Tak lama aku membaca pesan itu. Eunhyuk oppa langsung menelpon ku

”yoboseyo..” jawabku

“aihh chagi, akhirnya hehehe, kau belum tidur.. ini sudah tengah malam?”

“hmm ne oppa, aku baru saja pulang..”

“HAH?? Darimana saja kau? Masa hari sudah sangat larut kau baru pulang?” ucap Eunhyuk dengan nada panik

“hmm aku melihat Doo Joon oppa dan yang lain latihan”

Lee Hyukjae_POV

“hmm aku melihat Doo Joon oppa dan yang lain latihan” dekkk.. lagi-lagi namja itu, berita kedekatan Hyun Ri dan Doo Joon sudah sangat hebat. Bahkan ada yang bilang mereka sudah bertunangan, itu semua membuatku gerah, kapan sebenarnya berita itu berakhir?

“oppa…” tegur Hyun Ri

“ahh ne, mianhae… aku melamun…” sesaat percakapan antara aku dan Hyun Ri terhenti

“chagi…aku boleh bertanya sesuatu?” ucapku membuyarkan kesunyian

“ne oppa,, mwo?”               

“berita di TV, tentang kau dan Doo Joon, apa itu benar?”

“hmm menurutmu?” tanya Hyun Ri balik, aku tak tahu apa maksudnya tapi ini membuatku semakin takut kehilangannya.

“ani oppa… bukankah nae namja only you…” lanjutnya membuat ku lega.

Beberapa menit aku berbincang di telepon, itu masih tidak cukup untukku maka dari itu aku mengajaknya bertemu di restaurant langgananku dan Hyun Ri besok.

***

            Aku melihat sosok yeoja yang sudah ku kenal duduk di salah satu bangku, yap.. siapa lagi kalau bukan Hyun Ri. “sudah lama?” tanyaku mendekat. Hyun Ri beranjak dari kursinya, “ani..duduk oppa.. tadi sudah aku pesankan minuman, sebentar lagi pasti datang.. oppa lapar?” tanyanya langsungg setelah aku duduk disampingnya. “ani..nanti saja…” jawabku.

Beberapa saat kami hanya diam. Aku melihat sekeliling dan pandanganku berhenti tepat di atas meja kami, sebuah i-phone dengan gantungan B2st disana. “ini milikmu?” aku mengambil ponsel itu dan menunjukannya pada Hyun Ri, “ne..wae?” Hyun Ri mengangguk. “mengapa B2st..kenapa bukan super junior?” aku meletakkannya lagi, “mianhae oppa, ini pemberian Doo Joon oppa, tidak sopan rasanya jika aku melepas gantungan tersebut” jawabnya.

Aku memandangi i-phone itu, ‘sebegitu dekatnya kah mereka? Sehingga ia rela membelikan i-phone baru untuk Hyun-ri ku?’ pertanyaan itu membuatku kesal. Hyun Ri yang menyadari perubahan mimik wajahku yang melihat ponsel itu langsung mengambil ponselnya, “tapi, jika oppa tidak suka, nanti akan ku ganti..atau aku harus mengembalikannya pada Doo Joon oppa? Besok akan ku kembalikan kalau begitu” jelasnya seraya memasukan i-phonenya kedalam tas. “aahh ani…tapi, apa benar kau dan….” Aku belum menyelesaikan kalimatku tetapi ia langsung membungkan bibirku dengan tangannya. “ani..bukankah kau adalah namjachinguku oppa?, aku takkan berpaling.. Doo Joon oppa memang baik, tetapi bagiku kaulah yang terbaik.” Hyun Ri berhenti sebentar dengan melepaskan tangannya dari bibirku. “walau aku sadar, ia sangat baik padaku, sangat perhatian padaku… sering mengirm pesan untukku melebihi kau oppa, tapi.. aku selalu sadar, bahwa dia bisa seperti itu karena dia belum sesibuk kau oppa,, dan aku tahu kenapa kau tak bisa sepertinya, ne.. kau sangat sibuk and I know…” Hyun Ri kembali menghentikan kalimatnya untuk meneguk sari kelapa yang ia pesan. “kau tahu oppa,? Aku sempat berpikir bahwa seharusnya aku bersama dengan Doo Joon oppa bukan kau…” ucapnya menatapku. “MWO?? Jincha???” aku menatapnya dan memegang kedua bahunya erat. “hmm tapi itu dulu, saat aku belum sadar bahwa kau adalah segalanya”

***

            Aku mengantarnya pulang. “jumuseyo chagiya.. tidurlah yang nyenyak…”ucapku sambil mengecup lembut keningnya. “ ne oppa…jumuseyo, hati-hati dijalan” balasnya dengan senyum. Aku melihat ia memegangi kepalanya, wajahnya juga sedikit pucat, tapi aku merasa itu hanya perasaanku karena sekarang sudah sangat larut.

***

            Hari ini aku tidak pulang larut malam. Aku memutuskan untuk mampir keapartement Hyun Ri. Karena satu hari ini aku belum menelpon bahkan mengirim pesan untuknya.

Aku terus menekan bel apartementnnya hingga seorang OB datang menghampiriku, “ahgassi.. mencari Hyun Ri-ssi?.. dia sedang tidak ada di dalam..” jelas OB itu, “hmm kalau kau tahu, kemana dia?” tanyaku penasaran. “tadi pagi, ada seorang namja datang dan menemukan Hyun Ri-ssi pingsan di dapur dan membawanya ke rumah sakit..” dekk pikiranku melayang, aku segera berlari menuju mobilku. Menancap gas secepat mungkin menuju rumah sakit terdekat sambil mencari nomor telepon Doo Joon yang sempat ku simpan kemarin.

“yoboseyo” jawab Doo Joon

“dimana Hyun Ri? Rumah sakit internasional Seoul kan? Kamar apa? Nomor berapa?.?” Tanyaku tergesa-gesa

“ne.. Rose 414..”

Aku langsung menutup ponselku. Setelah parkir, aku segera berlari menuju kamar yang diberitahu Doo Joon.

Aku berlari melihar sekeliling, “Eunhyuk-ssi!!!” aku melihat dan mendengar Doo Joon memanggilku,. Aku segera berlari kearahnya, “bagaimana Hyun Ri? Mengapa bisa seperti ini? Ada apa dengannya? Dia tak apa-apa bukan?? Jawab aku.. jawab!!!!” aku menggoncangkan bahu Doo Joon dengan panik, aku tak tahu harus bagaimana? Ini terlalu tiba-tiba. PLAKKKK “ahh” Doo Joon menamparku, “apa yang kau lakukan?!!!” teriakku refleks karena tamparannya, “apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya padamu!!! … aku sudah tahu kau namjachingunya, tapi aku merasa kau bukan siapa-siapanya..” jelasnya menatapku tajam, “apa maksudmu???!!” tanya ku dengan nada emosi. “maksudku….??… sudah berapa lama kau menjadi namjachingunya?? HAH??.. bagaimana bisa kau membiarkan dia seperti ini?? Bekerja keras sendirian… apa kau tahu apa yang ia rasakan? Bagaimana jika ia tak bisa diselamatkan sekarang?? HAH?? Apa yang bisa kau perbuat??!!!” lanjutnya menjatap tajam dan nada emosi yang tinggi. “tak bisa diselamatkan? Apa maksudmu? Apa yang terjadi? Jelaskan,, jebbal!!!” aku menahan emosiku menatapnya penuh tanya.

Doo Joon tak langsung menjawab, ia duduk di salah satu kursi di luar ruang rawat Hyun Ri yang masih terkunci. “jebal!! Jelaskanlah..” ucapku lirih mengikutinya duduk. “apa kau benar-benar tidak tahu?” tanyanya dengan nafas tersengal. “ne..jebal..ceritakan” aku terus menatapnya. Ia tidak langsung menjawabku, ia berusaha mengatur nafasnya terlebih dahulu. “Hyun Ri.. dia.. dia..” ucapnya terbata.. “ne… wae?” aku terus berkonsenterasi mendengar ucapannya. “ia..mengidap..kanker otak” ucapnya meneteskan air mata. Aku diam mendengarnya mengatakan itu, jantungku tak bereaksi.. aku bahkan merasakan seluruh O2 menjauhiku. “Jeongmal?? Kau bohong kan?? Ayolahh.. ini tidak lucu” otakku mulai tak waras, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, Doo Joon hanya tertunduk.

***

            Aku terus menatap lekat wajah Hyun Ri yang pucat, ku genggam erat tangannya yang dingin. Sekarang, tangannya terpasang infus, hidungnya terpasang selang oksigen dan kepalanya terdapat beberapa kabel-kabel yang aku tak tahu apa fungsinya. “Chagiya….” Ucapku lirih, tanpa digubrisnya. “chagi..oppa disini, bangunlah… bukankah kau meridnukan oppa?, masa oppa datang kau justru tidur.. chagiya.. ireona,, jebal.. ireona” ucapku tak sadar sambil menciumi tangannya. Aku membatalkan semua jadwalku, aku tak peduli apa yang akan dilakukan SMent padaku nanti, yang ada di otakku sekarang hanya Hyun Ri.

Doo Joon juga tidak pulang, ia hanya menatap Hyun Ri. “sejak kapan kau tahu?” tanyaku tiba-tiba. Aku melepaskan genggamanku dan keluar diikuti oleh Doo Joon. “tahun lalu” jawabnya. “MWO??????!!!!” refleks aku berteriak, “ne… satu tahun yang lalu, saat kau dan super junior pergi untuk SS3 di Beijing, Hyun Ri pingsan saat latihan dan aku diberi tahu dokter tentang ini” jelas Doo Joon yang duduk di kursi luar ruangan Hyun Ri. “mengapa tidak member tahuku??!! Kau tahu? Satu tahun bukan waktu yang sebentar dan bagaimana mungkin aku tidak tahu?.. Seharusnya kau menghubungiku saat itu!!!” tanyaku dengan nada kesal, bukan kesal karena Doo Joon tetapi kesal karena aku yang terakhir tahu mengenai penyakit Hyun Ri. “MWO?? Dulu bahkan aku tak tahu bahwa kau adalah namjachingunya.. kau tahu? Sebelum aku tahu kau adalah namjanya, aku hampir menyatakan perasaanku… untung saja aku tahu lebih dulu… dan.. bagaimana mungkin ada seorang namjachingu seperti kau?? Kau sama sekali tak peduli pada Hyun Ri.. tahu kah kau,, bagi Hyun Ri kau adalah segalanya,, tahu kah kau Hyun Ri sangat takut untuk pergi meninggalkanmu…dan…” Doo Joon berhenti mengoceh. Aku menatapnya penasaran dengan lanjutan kalimatnya, “dan apa?? Lanjutkanlah, jebbal” pintaku. “dan kau malah mensia-siakannya.. jika kau tak sanggup menjaganya, lebih baik kau serahkan dia padaku!!” bentak Doo Joon hingga ia menatapku tajam sambil beranjak dari kursinya. “aniyo…!!” aku berlari kedalam ruang rawat Hyun Ri.

***

            Satu minggu Hyun Ri belum juga siuman, hari ini aku memutuskan untuk menjenguknya lagi. Sampai di rumah sakit aku segera berlari kearah ruang rawat Hyun Ri. “chagiya..oppa da..” aku terbelalak melihat tempat tidur Hyun Ri kosong. “chagiya…chagi…” aku mencari-carinya di sekeliling kamar tapi nihil. Aku keluar dan bertanya pada seorang suster, “suster… mian.. kau tahu pergi kemana pasien yang ada di kamar ini?” tanyaku, “ohh dia ada di taman bersama seorang namja, sepertinya kekasihnya” jawab suster itu. ‘kekasihnya? Lalu siapa aku’ gumamku tak jelas. Aku segera berlari menuju taman rumah sakit.

“Hyun Ri…!!!” aku berlari menghampirinya yang duduk santai di bawah pohon bersama seorang namja yang tak lain adalah Doo Joon. “hmm oppa…” Hyun Ri berdiri dan tersenyum padaku. “sedang apa kau disini? Kapan kau sadar? Kau seharusnya beristirahat di dal…hmm” Hyun Ri langsung membungkam mulutku. “enough.. gwaechana oppa.. I’m being fine now.. lagi pula aku ditemani oleh Doo Joon oppa” jelasnya tersenyum menatapku. “kau ini…” aku mengacak-acak rambutnya. “sebaiknya kau tak perlu mengacak-acak rambut Hyun Ri seperti itu…” ucap Doo Joon ketus. “ani oppa.. gwaechana” jawab Hyun Ri.

Aku ikut duduk di bawah pohon rindang, merangkul Hyun Ri terus. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. “oppa…” panggil Hyun Ri. “bisakah kita seperti ini terus?” tanyanya. aku menoleh kearahnya. “always together chagi”. Untung saja Doo Joon sedang membeli makanan dan minuman untuk kami, jadi aku bisa berdua saja dengan Hyun Ri. “bagaimana jika tidak?..bagaimana jika salah satu diantara kita pergi?..bagaimana jika aku mat…hm” tidak menunggu lama, aku langsung membungkam mulutnya. Aku tak ingin dia mengatakan sesuatu tentang kematian, “aniyo.. bagaimanapun Hyukjae dan Hyun Ri akan selalu bersama!!!” jawabku semangat sambil melepaskan bungkamanku.

Beberapa saat setelah itu, tak ada suara dari bibir Hyun Ri. “kau tidur chagi??” tanyaku memastikan, tetapi tetap tidak ada jawaban darinya. Aku menegakkan kepalanya dan.. “andwae!!! Chagi!!! Hyun Ri…” aku tersentak kaget melihat hidungnya yang mengeluarkan darah, “opp..ppa…” panggil Hyun Ri yang masih sadar. “kita kedalam..kajja..!!” aku berusaha menggendong Hyun Ri tetapi ia mengelaknya. “ani…” aku menatap bingung sambil membersihkan sisa darah di sekitar hidungnya. “oppa.. ji..ka…. aku pe..pergi… aku ingin kau tetap semangat..jangan bersedih.. hwaiting!” ucapnya lemas. “apa yang kau katakan??.. kau tak…” aku berhenti ketika tubuh Hyun Ri melemas, matanya perlahan terpejam. “Hyun Ri…!!!!!!”

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s