My Love is My Rival (Part II The last part)

Casts

  1. Lee Jinki
  2. Park Shin Hee

Cerita sebelumnya

Aku kembali beranjak dari tempat tidur dibantu oleh Jinki, “supirmu sudah kusuruh pulang” gumamnya. Aku membelalkan mataku menatapnya kesal “mwo?? Kau gila?? Bagaimana aku bisa pulang sekarang?” aku berdiri tepat didepannya menatapnya dengan tajam. “aku yang antarlah.. tidak mungkin aku tega membiarkanmu pulang sendiri” jawabnya tak kalah kesal sambil membalikan tubuhku dan membopohku keluar. Aku berjalan sambil dibopoh olehnya, sebenarnya aku masih kesal tapi aku tak ingin membuat kepalaku semakin pusing.

Lee Jinki_POV

Aku membopohnya hingga duduk di jok depan mobilku. Akupun berputar menuju jok pengemudi. Sepanjang perjalanan tak ada yang kami bicarakan, untung saja Taemin sudah bertanya pada Hyorin dimana rumahnya, jika tidak aku tak tahu harus membawa dia kemana?. “gomawo” gumam Shin Hee pelan, “untuk apa?” tanyaku. “untuk membawaku ke UKS, memberikanku obat dan mengantarku pulang.. but, untuk mengantarku pulang sepertinya itu dicoret..karena kau sengaja menyuruh supirku pulang duluan” jawabnya sambil tersenyum manis. Sebenarnya aku juga tak tahu mengapa aku menolongnya, biasanya aku menyuruh Minho atau Taemin. “gwaechana.. aku menyuruh supirmu pulang karena aku kasihan ia menunggumu sejak siang hari, lagi pula memang aku harus bertanggung jawab.. dan.. mianhae..aku tak sengaja” jawabku sambil menjelaskan. Aku tetap berkonsentrasi menyetir, “jadi.. kau yang melempar benda keras itu??” dia memiringkan posisi duduknya menghadapku, “bola basket!” sentakku, “apapun itu… jika kau membenciku tak usah seperti itu..bagaimana jika aku punya tumor otak atau bahkan aku bisa gegar otak..hah..eoteohke??” dia mengomel menatapku dengan tatapan yang sama saat di ruang kesehatan tadi, “kau ini..berlebihan sekali.. lagi pula aku tidak sengaja.. dan jika aku memang berniat seperti itu, aku tak akan membawamu ke UKS, menunggumu hingga sadar, membersihkan luka dikeningmu, memberimu makan dan obat serta mengantarmu pulang seperti ini.. seharusnya kau memikirkan itu!!” sentak aku kesal mendengar perkataannya.

Ku antar ia sampai depan pintu rumahnya. Ku lihat rumahnya hampir sama besarnya dengan rumahku, “sudah sampai..”gumamku sambil mematikan mesin mobilku. “aku sudah tahu..gomawo” ucapnya seraya pergi meninggalkanku dalam mobil. kutatap ia hingga masuk kedalam rumah, “Hei!!! Apa kau tak ingin pulang!!!!” Shin Hee berbalik dan berteriak. Aku kaget dan langsung menyalakan mesin mobilku serta pergi meninggalkan rumah Shin Hee.

***

            Hari ini namaku terpampang bersama Shin Hee di mading sekolah. Kami berdua masuk dalam babak final. “sainganmu bertambah ya??” gumam Minho yang melihatku menatap mading, “hmm hanya tikus kecil..” aku memalingkan pandanganku yang langsung tertuju pada sosok yeoja yang berada 15 meter lebih didepanku. Yeoja itu tersenyum manis bersama temannya, tubuhnya paling imut diatara teman-temannya. Sorot matanya membuatku menatapnya terus, rasa nyaman yang aku rasakan saat menatapnya seperti ini. “heii!! Kau lihat siapa sih??” Minho menepuk bahuku membuatku terkejut. “ahh aniyo..” aku memalingkan wajahku kearah lain. Minho mencoba menerka siapa yang aku lihat tadi, “hmm..dia.. sudah kubilang jangan terlalu benci.. tahu sendiri akibatnya kan?” gerutunya sambil memasukan kedua telapak tangannya ke saku celananya.

Aku duduk di bangku kantin di meja yang tersisa. Menatap kosong pada jus melon yang ada didepanku. “Jinki..kami boleh duduk disini ya?” suara Hyorin membuyarkan lamunanku. “ahh ne..” tanpa pikir panjang aku mengangguk. Aku baru sadar bahwa yang dimaksud kami itu adalah Hyorin dan Shin Hee. Mataku menatap Shin Hee yang tersenyum padaku, nafasku sekarang terasa sesak. Mengapa ia tersenyum seperti itu padaku?. “Jinki.. kau rival terberatku di lomba nanti” Shin Hee membuka pembicaraan, “hah?” aku masih mengatur nafasku, “ne.. aku, kau dan Jonghyun masuk babak final kan? dan kurasa kau saingan terberatku..” jelasnya dengan tetap mempertahankan senyumnya.

***

            Malam ini jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena besok adalah final lomba bahasa inggris, tapi karena sikap Shin Hee yang terkadang manis terhadapku. Akhir-akhir ini memang ia yang selalu aku pikirkan siang dan malam, apa mungkin aku benar-benar menyukainya?. Ahhh.. aku mengacak-acak rambutku kesal.

Author_POV

Shin Hee belum tidur hingga tengah malam, dia berpikir mengapa ia melihat Jinki sekarang berbeda dengan Jinki yang dulu pertama kali ia temui. Apa lagi setelah Jinki menolongnya dilapangan basket beberapa hari yang lalu, sikapnya yang tak pernah marah-marah dengan Shin Hee juga membuat Shin Hee merasa aneh. Satu minggu terakhir ini, setiap malam hanya memikirkan Jinki, “ahh sesange!! Hilangkan wajah namja itu dari otakku!!!” Shin Hee berteriak sambil menggeliat di ranjangnya.

***

            Hari ini adalah final lomba, Jonghyun yang sudah terbiasa berhadapan dengan Jinki sudah mempersiapkan dirinya dengan baik. “sekarang adalah giliranku” gumam Jonghyun bersemangat. Disisi lain Jinki menatap kosong meja dan alat tulisnya, perasaannya sekarang bukan memikirkan lomba yang ia ikuti tapi justru memikirkan Shin Hee yang belum juga tiba. “sebenarnya kemana yeoja itu? Lima menit lagi sudah akan dimulai” ia menatap jam didepannya.

Shin Hee terus melihat jam tangannya didalam mobil, “lima menit lagi” gumamnya melihat keadaan jalan yang macet. Shin Hee memutuskan untuk turun dari mobil berjalan menuju sekolahnya.

Di ruang perlombaan panitia sudah berkumpul dan bersiap membagikan soal. “chakam.. Shin Hee belum datang” Jinki berdiri dari kursinya. “ini sudah saatnya” jawab salah satu panitia. “kumohon.. tunggu 15 menit lagi..” pinta Jinki memelas, terlihat panitia menujui permintaan Jinki. “kau ini pabbo.. bukankah jika Shin Hee tak datang saingan kita berkurang” Jonghyun terlihat kesal dengan permintaan Jinki, “aku ingin pertandingan yang adil..” Jinki beranjak keluar ruangan berlari mencari keberadaan Shin Hee di sekitar luar gerbang sekolah.

Shin Hee berlari lemas, kakinya sudah sangat sakit. Tapi ia sudah melihat gerbang sekolahnya dan melihat seseorang menghampirinya. “kemana saja kau?” tanya Jinki pada Shin Hee yang berhenti dan mengatur nafasnya. “sudahlah .. kajja…” Jinki menarik tanga Shin Hee tapi Shin Hee terlihat tak bisa berlari, kakinya setengah pincang. Jinki yang melihat itu segera jongkok didepan Shin Hee, “naiklah..” perintah Jinki. Tanpa pikir panjang, Shin Hee langsung menyandarkan tubuhnya dipundak Jinki. Shin Hee merangkul Jinki erat, “mengapa kau menolongku?” tanya Shin Hee ditengah perjalanan menuju ruang lomba. “bukankah aku adalah rival terberatmu? Aku ingin berlomba secara adil, dan kau akan tahu kehebatanku” jawab Jinki sambil tersenyum.

***

            Diakhir lomba, Shin Hee, Jinki dan Jonghyun menghembuskan nafas leganya. Jonghyun keluar ruang lomba mengikuti panitia. Didalam ruang lomba sekarang hanya ada Jinki dan Shin Hee, “gomawo” ucap Shin Hee melepas keheningan yang sesaat tadi terjadi, “ahh gwaechana” jawab Jinki mendekat kearah Shin Hee, “bagaimana kakimu?” lanjutnya sambil menatap kearah kaki kiri Shin Hee, “hmm masih sedikit sakit, tapi aku yakin nanti juga sembuh” Shin Hee tersenyum manis kepada Jinki yang membuat Jinki menelan ludah.

Lee Jinki_POV

Aku membopohnya keluar ruangan lomba. Wajahnya masih terlihat kesakitan saat menginjakan kaki kirinya kelantai, “apa tidak lebih baik kau periksa ke rumah sakit?” tawarku sambil mendudukannya di salah satu bangku di taman sekolah. “sepertinya tidak perlu.. sebenar lagi juga sembuh..” belanya. Aku duduk disampingnya, untuk beberapa saat hanya hening yang kami rasakan. Sampai kahirnya Shin Hee membuka pembicaraan, “hmm ternyata kau itu tidak begitu menyebalkan ya?” gumamnya sambil tersenyum tipis kearahku, “mwo?? Memang siapa yang bilang aku menyebalkan?” tanyaku langsung menghadap kearahnya, “habis..pertama kali bertemu denganmu sikapmu sudah menyebalkan eheh” Shin Hee terkekeh, “kau juga..” tungkasku. “aku?? memangnya kau anggap aku seperti apa?” tanyanya penasaran mendengar pernyataannku yang tidak begitu jelas.

Shin Hee terus menatapku penasaran, aku hanya tersenyum melihat matanya yang semakin memandangku bingung. “aniyo…hahaha” aku mengacak-acak rambutnya. “aduhh.. kau ini…” Shin Hee kembali merapihkan rambutnya yang di ikat satu kebelakang, tapi aku segera menahan tangannya yang berniat mengikat rambutnya ulang. “sepertinya kau lebih lucu jika rambutmu diurai” aku merapihkan rambutnya. “hmm” Shin Hee hanya bergumam tidak jelas.

***

            Aku melihat Shin Hee berdiri sendiri di tempat parkir seperti mencari seseorang. Aku mengendarai mobilku sampai tepat didepannya. Aku membuka kaca pintu mobilku, “kau sedang apa berdiri sendiri disini?” Shin Hee tersenyum dan mendekat kearahku, “supirku belum datang.. dan aku lupa membawa ponselku.. bolehku pinjam ponselmu sebentar saja…” pinta dengan mata puppy eyesnya. “kau ini…” aku mengambil ponsel di sakuku dan memberikan padanya. Aku melihat ia hanya menatap layar ponselku, “ada apa?” tanyaku cepat. “hmm aku kan tidak hafal nomor ponsel supirku” jawabnya sambil memanyunkan bibirnya. “ommo!! kau ini… sudahlah.. ayo naik!” suruhku padanya. “ahh jincha??…gomawo” Shin Hee langsung berlari kearah jok depan tepat disampingku.

Setelah sampai didepan gerbang rumahnya aku mengunjak rem mobilku, “hmm gomawo..” ucap Shin Hee menatap kearahku sebelum ia turun, “ne..” hawabku singkat. Setelah Shin Hee turun dan melambaikan tangannya kearahku, aku segera menancap gas mobilku lagi.

***

            Pagi ini aku tidak langsung masuk ke ruang kelas, aku berdiri di depan pintu masuk sekolahku menunggu seseorang. “ahh itu dia” ucapku puas melihat Shin Hee turun dari mobil dan berjalan kearahku. “sudah siap?” tanyanya memastikan, “tentu…” jawabku yakin. Hari ini adalah hari pengumuman pemenang lomba bahasa inggris kemarin. Semua anak berkumpul di aula sekolah dan menunggu pengumuman, Shin Hee duduk diatara aku dan Jonghyun, ia terlihat meremas-remas tangannya. “tenanglah..” aku spontan menggenggam tangannya dan Shin Hee hanya mengangguk mengerti.

Beberapa menit menunggu akhirnya pengumuman pemenang lomba akan segera diumumkan. Tangan Shin Hee yang masih ku genggam bergetar, “sudah kubilang tenanglah..ini hanya sebuah lomba kecil” aku menggengam lebih erat tangannya dan ia menatapku serta ikut menggengam tanganku. “baiklah.. untuk juara ke tiga loba bahasa inggris Asia Pacific International School tahun ini adalah…….. Jonghyun!!” suara ketua panitia lomba membuat semua orang bertepuk tangan untuk Jonghyun dan ia segera naik keatas panggung. Ketua panitia bersama guru-guru dan tidak lupa kepala sekolah memberi selamat pada Jonghyun.

“kau atau aku ya??” gumamku menatap Shin Hee disampingku, “molla..” tatapannya terus terarah ke atas panggung. “dan juara pertama adalah………… Lee Jinki…..!!!!” suara ketua panitia diikuti tepuk tangan, dan Shin Hee hanya mengehembuskan nafasnya. Aku menatapnya, “dan sudah jelas juara kedua adalah Park Shin Hee.. untuk Jinki dan Shin Hee silahkan naik ke mimbar” setelah mendengar suara ketua panitia, aku menggandengnya keatas panggung dan menerima piala dan piagam.

***

            Setelah pengumuman selesai, Shin Hee pergi lebih dahulu. Aku mencarinya di sekeliling sekolah, “ahh mengapa sekolah ini begitu besar….!!!” Gerutuku sambil celingak-celinguk mencari Shin Hee. Aku menuju taman belakang sekolah, di bawah pepohonan kulihat seorang yeoja duduk memandang keatas langit yang tak lain itu adalah Shin Hee. Aku mendekatinya, “sedang apa?” tanyaku ikut duduk disampingnya, “melihat langit..” ia tetap memandang keatas, aku mengikuti arah pandangannya, “tak ada yang spesial” gumamku melihat langit biru dengan awan putih. “memang..” Shin Hee menoleh kearahku dan tersenyum. “kau sedih?” tanyaku lagi, Shin Hee hanya menggeleng.

Aku membawa pialaku dan mengulurkannya kearah Shin Hee, “hmm??” Shin Hee hanya menatap bingung, “untukmu..” jawabku. Shin Hee tersenyum, “pabbo.. untuk apa, aku sudah punya..” ia mengambil piala yang ia taruh di sampingnya, “bukankah kau ingin mendapat juara pertama?” tanyaku, “ne.. tapi tidak dengan cara seperti itu Jinki.. aku ingin dapat dengan usaha ku sendiri” tungkasnya sambil menaruh kembali pialanya dan berdiri. Aku ikut beranjak dari bangku dan memegang bahu Shin Hee dan memutarnya menghadap kearahku, “hmm?” Shin Hee menatapku bingung.

Aku mengumpulkan keberanianku, “kau tahu.. awalnya aku sangat membencimu” ucapku dengan terus menatapnya, “aku juga” ia menambahkan, “aku selalu memikirkanmu seriap malam karena aku terlalu membencimu, “nado…” jawabnya lagi, “aku benar-benar membencimu” lanjutku, “me too” jawabnya terus. “dan.. kau tahu…” aku menatapnya rekat, Shin Hee menatapku penuh tanya “aku…. aku mulai menyukaimu…” ku katakan itu secepat mungkin. Shin Hee terus menatapku bingung, dia sama sekali tak merespon. “Shin Hee…” aku mencoba memastikan dia masih tersadar, “ne..” jawabnya, “mengapa kau tak mengatakan apapun?” tanyaku dengan memegang bahunya dan mendekatkan wajahku padanya, “memang… aku aku harus mengatakan apa?” tanyanya balik. “kau.. sejak tadi kau hanya bilang, nado..me too.. apa kau tak ingin mengucapkan kalimat yang sama?” tanyaku dengan tetap memegang kedua bahunya dan menatapnya, “hmmm… molla..” jawabnya singkat. Aku melepaskan tanganku dari pundaknya, “hmm..” aku mundur satu langkah dan menunduk. Aku rasa aku sudah ditolak, pabbonya aku.

Park Shin Hee_POV

Aku tak menyangka Jinki akan berkata seperti itu, sama sekali tak pernah kuduga karena dia adalah rivalku sekarang. dia terlihat lemas dengan jawabanku yang mengambang, mungkin dia pikir aku sudah menolaknya, padahal aku juga merasa seperti itu. Aku terlalu membencinya dan akhirnya aku terlalu mencintainya. Perkataan eomma memang benar, aku tak boleh membenci orang secara berlebihan karena akibatnya akan menjadi seperti ini.

Aku melangkah maju mendekatinya dan memegang dagunya mencoba membuat kepalanya tegak kembali, “mengapa menjadi lemas seperti ini?” tanyaku menatapnya dan ia hanya menggeleng. “kau bilang kau suka padaku bukan?” aku bertanya lagi dan ia hanya menjawab dengan anggukan lagi, “lalu..hanya itu?.. tak ada kalimat lain yang ingin kau ucapkan? .. kau tak ingin bertanya sesuatu padaku?” tanyaku mencoba membuatnya bersemangat lagi. Jinki pun menegakan kepalanya lagi dan menatapku, aku tersenyum melihat nya. “hm ne.. aku ingin bertanya… Park Shin Hee..apakah kau juga menyukaiku? Apa kau ingin menjadi yeojachinguku?” Jinki menggenggam tanganku. Aku mendekat ke kupingnya dan berbisik “ne..” sentak Jinki merangkulku dan memutarkan tubuhku. “heii hentikan.. pusing!” keluhku.

Jinki menurunkanku tetapi ia langsung mendekatkan wajahnya dengan wajahku, sekarang hanya berjarak 3cm antara wajahku dan wajahnya. Perlahan aku menutup mataku dan aku mulai merasakan bibir Jinki mulai menyentuh bibirku, “upss…chakam…” aku segera mendorongnya, “hmm wae?” tanyanya cepat. “kau itu rivalku…!” jawabku. “ohh ya.. tapi tadi aku yang menang, jadi wajar jika aku mendapatkan hadiah…” jawabnya mendekat lagi padaku, “ohh tidak bisa… minggu depan ada perlombaan sains.. kita buktikan disitu..eoteohke??” tanyaku sambil bertolak pinggang , “oke..liat saja nanti.. sepertinya kau harus giat belajar…”ujar jinki sambil mencubit pipiku, “ohh kau juga..”..

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s