My Love is My Rival (Part I)

CASTs:

  1. 1.      Lee Jinki
  2. 2.      Park Shin Hee

 

Lee Jinki_POV

Aku rasa ini adalah hari keberuntunganku, dua kali sudah aku menjadi juara umum di Asia Pacific  International School. Sekolah yang terkenal elit dan mendapatkan peringkat dunia. Sampai saat ini, aku masih yang terpintar dan kurasa itu akan bertahan hingga aku lulus. “Jinki.. chukae!” Hyorin mengulurkan sebuah kotak dibungkus kertas bercorak teddy bear sambil tersenyum. “ohh ne..gomawo” aku tersenyum dan mengambil kotak yang ia ulurkan, “what is it?” aku melihat kotak itu lalu kembali menatap hyorin, “hadiah..seperti biasa..bye!” jawabnya singkat yang langsung berlalu meninggalkanku.

Sudah sering sekali Hyorin memberiku sebuah hadiah jika aku memenangkan sesuatu, aku tak tahu apa maksudnya, tapi aku senang mendapat hadiah. “kau dapat hadiah lagi? Senangnya” Minho menepuk punggungku sambil melirik kotak yang kupegang. “ahh, biasa saja.. jika kotak ini dari Lizzy After school, mungkin aku baru akan merasa senang” candaku, “ahh kau ini, selalu saja dia.. sudahlah, ayo kita pulang!” ajak minho. Aku mengangguk dan kami berjalan menuju tempat parkir, disana sudah menunggu Kibum dan Taemin.

***

            Kami semua bermain basket dilapangan basket rumahku seperti biasa. Banyak orang bilang aku dan teman-temanku ini adalah manusia sempurna, karena memiliki keluarga yang kaya raya, penampilan yang sangat disukai wanita ditambah nilai-nilai yang selalu diatas rata-rata. Begitulah kehidupanku, too perfect. Tapi sayangnya Kibum tak bisa selalu bersama karena berbeda sekolah.

            Park Shin Hee_POV                                       

Sesange!, entah apa yang aku impikan kemarin? Dua hari yang lalu aku masih merayakan keberhasilanku mendapat juara umum di sekolahku tepatnya di Busan Foreign School. Tapi sekarang aku sudah ada di kantor headmaster Asia Pacific International School. Yap.. aku pindah, ini semua karena appaku harus bekerja di Paris, tak ada hubungannya? Tentu saja ada, di Busan dulu aku tinggal bersama dengannya tapi karena dia harus pergi jauh dan ia tak ingin aku pindah ke Paris jadilah aku dititipkan kepada eommaku di Seoul. Broken Home? Kurasa bukan, karena kedua orang tuaku masih berhubungan dengan baik dan mereka membebaskanku untuk ikut siapa saja.

“sekarang kau bisa masuk ke ruang kelasmu” tungkas pria setengah baya, Mr.Goo kepala sekolah disini. Aku segera berdiri dan menunduk hormat padanya. Sekarang aku harus menemukan dimana ruang kelasku? Aku melihat semua petunjuk jalan dan akhirnya aku menemukan ruang kelas 2A.1. Pintunya otomatis terbuka ketika aku berdiri kurang lebih satu meter didepannya, aku bisa merasakan semua orang menatapku bingung, but I don’t care, aku hanya ingin belajar sekarang.

Aku duduk tepat di depan layar untuk proyector, “Good Morning, hmm apa kau siswi baru dari busan?” tanya seorang guru wanita yang baru saja masuk kelas, “ne” jawab ku sambil beranjak dari kursiku dan menunduk hormat padanya. Dia tersenyum manis, “ohh araseo, sit down please”.

***

            Hari pertamaku tak begitu buruk, aku sudah bisa mendapatkan beberapa teman dikelas. Mereka ramah dan baik, setidaknya itu pandanganku pada mereka. “Shin Hee-ah ..” Hyorin, seorang teman baruku dikelas memanggilku dan berjalan kearahku, “ne..wae?” aku membalik dan tersenyum padanya, “kau sudah ingin pulang?..bagaimana jika aku memperkenalkan sekolah barumu ini? Eoteohke?” tanyanya sambil memandang sekeliling. Aku ikut melihat sekeliling sambil berpikir, “hmm sepertinya lain kali saja Hyorin, aku masih harus merapihkan barang-brangku di rumah, but thanks before” aku putuskan menolaknya dulu karena sebenarnya aku masih sangat lelah.

Setelah aku sampai ditempat parkir, dimana supir yang di pekerjakan eommaku khusus mengantar jemput aku sekolah sudah menunggu sambil membaca koran. Aku segera naik kedalam mobil, “ayo ahjussi, aku sangat mengantuk” perintahku sambil menaruh tasku di sampingku. “ne..” jawabnya singkat. “ahh” baru saja supirku menancap gasnya, ia langsung mengeremnya mendadak, “aduhh wae? Ada apa?” kepalaku terbentur jok didepanku, “ahh ada mobil yang berhenti didepan mobil kita ahgassi” jelasnya sambil menunjuk sebuah mobil mewah berwarna putih diikuti dua mobil dibelakangnya dengan warna hitam dan biru dongker. “ahh sial!” keluhku, aku segera turun dan menghampiri mobil putih tersebut, “hei!!! Apa yang kau lakukan? Berhenti sembarangan didepan mobilku, cepat pindahkan mobilmu ini!!!” bentakku di depan kaca mobil pintu samping mobil tersebut. Kaca mobilnya terbuka perlahan dan aku bisa melihat seorang namja duduk di jok pengemudi, “apa hakmu memerintahku seperti itu?” namja itu menatapku sinis, aku tak menggubris tatapannya dan langsung menuju ke mobilku lagi. “pindah ahjussi, biar aku yang mengendarai” aku duduk dijok pengemudi dan supirku duduk di jok depan disampingku, “ahgassi..” supirku menatapku cemas, tapi aku berusaha menghiraukan itu.

Ku kencangkan sabuk pengamanku dan mulai manancapkan gas mobilku, “ahgassi!!!” aku segera mengeremnya setelah hampir menabrak mobil namja itu, “hei!!!! Kau gila!!!” namja itu keluar dari mobilnya dan langsung berlari menuju mobilku diikuti kedua temannya dibelakang, “ hei!! Kau tuli!! Keluar!!!” namja itu mengetuk kaca mobilku, aku membuka kaca mobilku dan menatapnya, “singkirkan mobilmu.. atau aku akan benar-benar menabrakan mobilku” ancamku sambil menatapnya tajam, “kau!! …” namja itu menunjuk mukaku “huh” tapi ia langsung berlari kearah mobilnya dan meminggirkan mobilnya itu, tanpa pikir panjang aku segera menginjak gas mobilku dan pergi dari tempat parkir sekolah.

Author_POV

Jinki membanting tasnya di atas ranjangnya. Wajahnya terlihat kesal, “dia kira, dia siapa?? Beraninya bertingkah seperti itu denganku..HUH!!” Jinki berteriak kesal sambil membuka kancing kemejanya, “sudahlah, itu juga salahmu yang memberhentikan mobil seenaknya, wajar saja yeoja itu kesal” tungkas minho yang asik mempersiapkan PS3 milik Jinki bersama Taemin, “tapi… ahh!!!” Jinki tak bisa berkata apapun, dia sudah sangat kesal dengan kelakuan Shin Hee.

Dirumah Shin Hee segera merebahkan tubuhnya di ranjang, dia sama sekali tak memikirkan kejadian yang dialaminya barusan dan ia langsung memejamkan matanya.

Selama satu minggu Shin Hee sudah mulai beradaptasi dengan sekolah barunya. Tapi satu hal yang mengganggunya adalah 3 orang namja yang ditemuinya dulu di tempat parkir, mereka sangat menyebalkan bagi Shin Hee, tingkah mereka sangat dibencinya karena terlalu merasa memiliki kuasa dan sok pintar walau kenyataannya memang mereka pintar tapi menurutnya itu tak harus dipamerkan.

Disisi lain Jinki juga sangat membenci Shin Hee, tanpa ia tahu namanya tapi dengan sikap Shin Hee pertama kali padanya dulu membuatnya sangat membencinya. Selama satu minggu Shin Hee sekolah disini mereka berdua belum pernah berkenalan padahal Hyorin teman Shin Hee adalah salah satu teman dekat Jinki.

Lee Jinki_POV

Aku kembali mengikuti lomba bahasa inggris disekolah dan aku yakin kali ini aku pasti memenangkannya lagi, karena masih aku yang terpintar disini. Aku mulai mengisi soal bahasa inggris untuk seleksi awal, selesai aku mengerjakan soal dan ketika aku ingin mengumpulkannya, aku mendapati yeoja itu juga ikut mengumpulkan kertas jawabannya. “hmm apa yang kau lakukan disini?” tanyaku cepat setelah melihatnya berada diruang seleksi, “berenang” jawabnya sinis yang membuatku semakin kesal. “kau….” aku mengepalkan telapak tanganku seolah ingin meninjunya tapi aku sadar dia itu yeoja, “pertanyaanmu yang bodoh, sudah tahu ini ruang seleksi..tentu saja mengikuti seleksi” jawabnya sambil berjalan menuju pintu keluar dan aku mengikuti dibelakangnya.

Kekesalanku makin bertambah padanya setelah kejadian di ruang seleksi tadi, “heii jinki.. jangan melamun” Taemin memukul kepalaku pelan dan duduk disampingku di kantin sekolah, “kau..”. Taemin meminum minumanku setelah duduk “ada apa denganmu? Sepertinya kau sedang kesal?” tanyanya melihatku, “siapa lagi kalau bukan yeoja menyebalkan itu” jawabku sambil melirik seorang yeoja yang duduk bersama Hyorin, “hmm… ohh Shin Hee” jawabnya setelah melihat kearah lirikanku, “kau tahu namanya???” aku menatap Taemin penasaran, “ne.. dia sekelas dengan Hyorin.. pindahan dari Busan Foreign School, dia pintar dan juara Olimpiade Fisika tahun lalu, bersamaan dengan Olimpiade matematika yang kau ikuti” jelas Taemin sambil terus meminum jus melonku.

***

            Aku menatap langit-langir kamarku sambil membaringkan tubuhku diranjang. Jadi yeoja itu adalah rivalku sekarang, dulu kita bersaing di lomba yang berbeda tapi sekarang kami bersaing di satu lomba disekolah yang sama. Aku harus mengalahkannya karena aku memang tak pernah kalah.

Pagi ini adalah pengumuman siswa-siswi yang lulus untuk ikut seleksi lomba audisi berikutnya dan aku tak perlu membacanya atau mendengarkannya di radio sekolah karena aku yakin aku sudah dipastikan lolos. “Jinki..chukae!!” Hyorin berlari kearahku yang baru saja tiba, “ahh ne..gomawo..” aku melihat tangannya yang tak membawa hadiah lagi, untunglah karena aku bosan dengan hadiah jam tangannya. “hmm eh… Shin Hee!!!” Hyorin melihat kebelakang tubuhku memanggil seorang yeoja, “hei!!! kau lolos.. daebak!! Chukae!!” seru Hyorin senang, “hmm ohh ya.. syukurlah” jawab Shin Hee dengan senyum yang biasa. Aku melihatnya dengan seragam lengkap, rambutnya terurai dengan poni depan dan menggunakan sebuah jepitan pita berwarna coklat di sebelah kiri, wajahnya terlihat cantik sekali, kulihat lagi tubuhnya yang sekitar lebih pendek 8cm dari tinggiku dan Hyorin, rok mininya membuat kakinya terlihat sangat indah, kulitnya putih, ku tatap lagi wajanhnya, ahh siall pabbo bagaimana bisa aku menatapnya seperti itu? Dia yeoja yang kubenci.

“Shin Hee.. aku kenalkan kau dengan orang terpintar disekolah ini.. dia Lee Jinki, juara umum disekolah ini” Hyorin memperkenalkan yeoja itu padaku, “dan..Jinki, ini Park Shin Hee, dia juga juara umum di sekolahnya dulu” lanjut Hyorin. Aku menatapnya tajam tapi yang aneh dia justru tersenyum kearahku dan itu terlihat sangat manis, “annyeong haseyo..” salamnya, “ehh annyeong haseyo” tanpa pikir panjang aku spontan menjawab sapaannya.

***

            Aku duduk didepan televisi LCD ku bersama Minho dan Taemin, kami menonton sebuah film tapi aku sama sekali tak mengerti maksud film itu. Pikiranku justru tertuju pada Park Shin Hee, yeoja yang berubah drastis didepanku tadi, untuk sesaat ia tak menatapku tajam dan sinis, dia bahkan tersenyum manis dihadapanku. “hei..Jinki!!! kau melamun lagi?” Minho kali ini yang mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku, “ahh aniyo” aku mengelak, “pasti Shin Hee..” sambar Taemin dengan tetap menonton filmnya, “hmm ah.,..an…ani..aniyoo!!” aku mencoba mengelak tapi sepertinya justru terlihat aku berbohong. “pagi, siang dan malam kau melamun dan itu hanya memikirkan Shin Hee, kau ini membencinya atau malah menyukainya sihh Jinki?” tanya Minho sambil kembali menonton film, “ne..benar..sepertinya kau menyukainya..bukan membencinya” timbal Taemin. “ahh ani.. mana mungkin, sekali membencinya, aku akan selalu membencinya!” tungkasku mencoba meyakinkan kedua temanku ini. Taemin menoleh kearahku menghiraukan film yang sedang ditontonnya “kau yakin?.. kau jangan terlalu membencinya, karena antara cinta dan benci itu sangat tipis perbedaannya, semakin kau membencinya, nanti kau bisa semakin mencintainya” Taemin menatapku rekat-rekat, “benar.. saat kau membencinya kau akan selalu memikirkannya, dari situlah kau akan menyadari bahwa kau mencintainya.. araseo jinki?” tambah minho menatapku dengan pandangan yang sama dengan Taemin. Aku menatap mata mereka berdua bergantian, “Imposible!!!” bentakku dan aku langsung beranjak dari sofa menuju kekamarku.

Park Shin Hee_POV

            Hari ini seleksi kedua, setelah ini langsung Final. Aku harus mendapatkan gelar juara, karena itu akan menjadi prestasi pertamaku di sekolah ini. Aku berjalan menuju ruang seleksi, brukk “ahh” rintihku bersamaan dengan seseorang yang menabrakku, “aduhh..mianhamnida..” aku mengelus-elus kepalaku yang berbenturan dengan kepala orang yang kutabrak atau menabrakku ini sambil menunduk 90 derajat. “ahh nado.. mianhae!” terdengar suara seorang namja yang sepertinya aku mengenalnya. Kutegakkan kepalaku dan… mwo?? Lee Jinki?, aku membelalakan mataku kearahnya, sebenarnya aku tak harus sekaget ini, memangnya ia siapa?. “kau..??” geruru Jinki sambil menunjuk kearahku, “aisshh.. tak usah menunjukku seperti itu, aku tidak suka” aku memegang tangannya yang menunjukku dan menurunkannya. Jinki menatapku dalam, aku pun sentak menatapnya balik, tanpa kusadari tanganku masih menggenggam tangannya. “ahh” aku segera melepaskan tanganku dan berjalan masuk meninggalkan Jinki didepan pintu.

Aku selesai mengerjakan soal untuk seleksi kedua ini, saat aku sampai didepan meja pengawas, entah ada angin apa, Jinki ikut mengumpulkan kertasnya. hal ini untuk kedua kalinya kami bersamaan mengumpulkan jawaban. “kalian berdua hebat sekali, baru sebentar sudah selesai.. bersamaan pula” seorang namja setengah baya yang mengawasi kami bergumam pelan. Aku hanya tersenyum kecil dan melangkah menuju pintu keluar yang sudah didahului Jinki.

Aku duduk di tribun penonton di lapangan basket. Ku lihat segerombolan namja sedang asik bermain basket hingga keringat mereka membasahi baju basket yang mereka gunakan. Aku sadar disana banyak namja keren, tapi entah kenapa aku tertuju pada sosok yang tidak terlalu tinggi berwajah tampan, aissh itu Lee Jinki. Ada apa dengan ku? Mengapa sejak tadi aku hanya menatapnya?. Aku menggeleng-gelengkan kepala mencoba menghilangkan Jinki dari pikiranku, “ahhhh..” sesuatu benda terbang kekepalaku, aku merasa sangat pusing,pandanganku kabur.

***

            Kepalaku masih agak pening. Berusaha membuka mataku perlahan. Aku menatap sekeliling dan aku sadar bahwa aku berada di ruang kesehatan sekolah, kulihat sosok namja disampingku memandangku cemas. “kau sudah sadar? Sudah merasa baik?” aku baru sadar bahwa suara itu adalah suara Jinki, aku menoleh kearahnya dan tersenyum “ne..”. Jinki tetap memandangku cemas, aku masih sibuk memijat pelipisku karena masih sedikit pusing, “Shin Hee.. gwaechanayo?” wajah Jinki tiba-tiba mendekat, tatapannya membuat dadaku berdetak lebih cepat. Aku segera bangkit dan membuatnya mundur satu langkah “ahh aniyo.. gwaechana..i’m fine..” aku berusaha beranjak dari tempat tidurku di ruang kesehatan, tapi kepalaku masih pusing hingga aku tak bisa menjaga keseimbangan. Aku merasa akan jatuh “Shin Hee..” Jinki menangkapku dan mencoba membuatku berdiri lagi, “aihsss” gerutuku kesal karena pening dikepalaku, “sebaiknya kau istirahat dulu” Jinki membopohku ke tempat tidur yang tadi, aku hanya duduk menahan pening dikepala.

Jinki pergi meninggalkanku sendiri diruang kesehatan, kemana dia?? Pergi begitu saja uhhh keluh dalam hati. Aku masih berusaha membuat pening dikepalaku hilang. Krek suara pintu terbuka. Aku melihat Jinki membawa roti, obat dan sebotol air mineral. “kau makan dulu..” Jinki menyodorkan rotinya, aku hanya menerimanya tapi belum aku lahap, “makanlah, tak ada racunnya kok..setelah itu minum obatnya.. mungkin ini bisa membuatmu lebih baik” jelasnya sambil membuka tutup botol obatnya dan mengeluarkan dua butir obat. Aku memakan sedikit rotinya dan menaruh sisanya dimeja “aku kenyang” gumamku. Jinki menyodorkan obat kemulutku, aku membuka mulutku dan Jinki memasukan obat itu kedalam mulutku lalu memberikan aku minum dari botol mineral yang tadi.

Aku kembali beranjak dari tempat tidur dibantu oleh Jinki, “supirmu sudah kusuruh pulang” gumamnya. Aku membelalkan mataku menatapnya kesal “mwo?? Kau gila?? Bagaimana aku bisa pulang sekarang?” aku berdiri tepat didepannya menatapnya dengan tajam. “aku yang antarlah.. tidak mungkin aku tega membiarkanmu pulang sendiri” jawabnya tak kalah kesal sambil membalikan tubuhku dan membopohku keluar. Aku berjalan sambil dibopoh olehnya, sebenarnya aku masih kesal tapi aku tak ingin membuat kepalaku semakin pusing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s