Do You Still Love Me? (Part IV The Last Part)

Cast

  1. Lee Donghae
  2. Lee Hyuk Jae
  3. Leeteuk
  4. Hye Ri
  5. Hyo Rim

Cerita Sebelumnya

 

Aku diam selama Eunhyuk dan Hye Ri pulang, tak ada percakapan antara aku dan Donghae.

“Donghae..” panggilku lirih tanpa menatapnya dan hanya menunduk,

“sebaiknya kita sudahi hubungan ini”

Choi Hyo Rim_POV

Entah mengapa aku bisa berbicara seperti ini, sebelumnya tak ada niat untuk membicarakan ini,

“hmmm” Donghae hanya bergumam tidak jelas,

“aku tahu, sejak awal kau hanya menganggapku sebagai sahabat..” lanjutku, ku tegakkan kepalaku tetap masih tak berani menatap wajahnya,

“benarkan??” aku mulai memberanikan diri menatap wajahnya,

“entahlah.. aku berusaha menerima hubungan kita.. tapi..” Donghae memejamkan matanya seolah memastikan sesuatu, “aku tak pernah bisa… aku terlalu mencintai…”

Belum selesai Donghae mengucapkat kalimatnya

“Hye Ri… Shin Hye Ri..” selaku,

“hah??” Donghae menatapku heran,

“ne.. aku tahu..kau menyimpan fotonya di dompet, ponsel dan laptop mu, kau memperhatikannya lebih, kau selalu bercerita tentangnya, bahkan hanya kenangan Hye Ri yang kau ingat diwaktu kecil.. apa lagi jika bukan cinta?? Sudahlah, mengaku saja” aku menjelaskan dengan semangat dan mnaik turunkan alisku untuk menggodanya,

“ahh kau..” wajah Donghae mulai memerah,

“ayolah… ahhahah” aku mulai tertawa melihat wajahnya yang memerah.

Lee Donghae_POV

Aku tak mengira Hyo Rim tahu perasaanku, apa memang terlalu kelihatan? Sepertinya tidak. Aku duduk di kursi yang berada di balkon apartementku. Mengingat semua kejadian hari ini membuatku senang tetapi membuat hatiku sakit juga. Sejak kapan Eunhyuk dekat dengan Hye Ri? Begitu leluasanya ia menggenggam dan menarik tangan Hye Ri. Semua kejadian beberapa hari ini membuat konsenterasi kerjaku kacau.

***

Aku bangun lalu mandi dan bersiap sarapan pagi. Sambil sarapan aku membaca surat kabar yang sudah disiapkan Leeteuk hyung, Model Hyo Rim dan Penyanyi Lee Donghae memutuskan hubungan mereka berita utama disurat kabar terpampang besar di cover. Aku tak merasa heran jika berita seperti ini cepat menyebar, Hyo Rim model yang terkenal begitu juga denganku jadi dalam satu malam cukup untuk para wartawan mengetahui berita terbaru.

Untung hari ini jadwalku tak begitu padat, setelah konser amal ini aku sudah bebas.

“Donghae.. setelah ini kau ingin pergi kemana??” Leeteuk hyung duduk disampingku dan memberiku sekaleng soda,

“hmm entahlah..” aku menerima minuman yang diberi hyung dan meminumnya,

“bagaimana jika kau mengenalkanku padanya??” aku sentak kaget mendengar pertanyaan hyung,

“maksudmu??” ku tatap Leeteuk hyung

“ne..yeoja yang ada di dompet, ponsel dan laptopmu itu” Leeteuk hyung menatapku penuh tanya dengan menaik turunkan alisnya,

“araseo… biar ku telepon dulu” aku segera mengambil ponselku dan menekan nomor Hye Ri,

 

“yoboseyo oppa..” suara Hye Ri menjawab panggilanku,

“Hye Ri…” entah kenapa aku menjadi gagap setiap ingin menelponnya,

“ne…” Hye Ri menjawab dengan tenang,

“kau..sedang sibuk?” aku bingung menyusun kata-kata,

“aniyo.. wae??” suara Hye Ri terdengar lagi,

“itu..hmm..anu..ehhmm maskduku..hmm” aku merasa seperti orang linglung sekarang,

“oppa..waeyo?? ahmm ehm ahmm ehmm terus, aku tak mengerti..” Hye Ri terdengar bingung mendengar suaraku,

“hmm itu… kita bisa bertemu, sekarang” jawabku cepat,

“ohh..dimana? hmm aku sedang dirumah oppa, bagaimana jika dirumahku saja?” sahut Hye Ri.

Setelah semua pekerjaanku selesai, aku segera mrnuju rumah Hye Ri. Aku menekan bel rumah Hye Ri setelah sampai dirumahnya,

“ohh oppa.. masuk..” Hye Ri membukakan pintu dan menyuruh aku dan Leeteuk hyung masuk, aku mengangguk dan masuk.

“tumben oppa ingin bertemu, ada apa?” Hye Ri membawakan kami minum dan ikut duduk di ruang tamu,

“hmm ani.. ada yang ingin bertemu denganmu” aku melirik Leeteuk hyung yang dari tadi hanya senyum-senyum sendiri,

“ne..Leeteuk imnida” Leeteuk hyung menjulurkan tangannya dan disambut oleh Hye Ri

“Hye Ri imnida”.

Aku mengobrol banyak dengan Hye Ri dan Leeteuk hyung,

“ohh Donghae, aku masih ada janji… aku pulang duluan ya?..Hye Ri, sampai jumpa, sekali lagi, senang berkenalan denganmu” aku hanya mengangguk dan Hye Ri mengantar Leeteuk hyung keluar.

“hmm oppa..” tegur Hye Ri,

“ne..” aku menatapnya yang mulai kembali duduk,

“mengapa kau bisa putus dengan onnie?” Hye Ri menatap heran. Aku diam bingung memikirkan alasan untuk menjawab pertanyaannya,

“mungkin karena dari awal aku dan Hyo Rim tidak cocok.. ohh ya, keluar yukk” aku beranjak dan menarik tangannya, Hye Ri hanya diam dan menurut.

***

Kubawa Hye Ri ketaman dekat apartementku,

“oppa.. sebenarnya mau apa kita kesini?” Hye Ri duduk disalah satu bangku ditaman, aku menggeleng

“aku hanya ingin kau temani”. Ku pandangi wajah Hye Ri,

Tak ada perubahan yang siknifikan, dia masih cantik dan mempunyai aura yang sangat kusuka.

“hm.. sekarang sudah menjadi penyanyi terkenal, bagaimana perasaanmu oppa?” Hye Ri membuka percakapan antara kami,

Wajahnya tak memandangku tetapi  menatap air mancur didepan kami.

“senang tetapi terkadang menyebalkan,” jawabku sambil tersenyum dan ikut menatap air mancur tersebut.

“menyebalkan? Wae? Bukankah menjadi artis terkenal itu sangat menyenangkan? Hyo Rim onnie yang menjadi model saja sepertinya sangat menikmati” tungkas Hye Ri dengan memasang wajah bingungnya,

Wajah itu selalu aku lihat dulu ketika ia harus membuat dan membaca not balok.

“kau tahu Hye Ri… menjadi seseorang yang dikenal memang menyenangkan, tapi untuk apa aku dilihat dan digemari oleh orang banyak kalau orang yang kuharap melihatku sama sekali tak melihatku bahkan mungkin melirikpun tidak” aku mengalihkan pandanganku keatas langit,

“mwo? Maksudmu oppa? Aku tidak mengerti?” Hye Ri melihat kearahku dengan mengkerutkan keningnya,

“aniyo..lupakanlah..” aku menoleh menatap wajahnya yang kebingungan sambil mengacak-acak rambutnya.

Berada di taman bersama Hye Ri sangat menyenang, banyak obrolan antara kami. Tidak seperti beberapa hari yang lalu, wajahnya lebih ceria dan bersahabat.

“wahh itu Donghae bukan…. Wah wah.. ne… oppa.. Donghae oppa…!!” aku mendengar teriakan-teriakan remaja di dekat kami, aku baru sadar, aku tak memakai topi dan alat penyamaran lainnya.

“kajja..” aku menarik tangan Hye Ri dan berlari menuju mobilku,

“oppa…” Hye Ri sedikit kaget tetapi tetap ikut berlari,

“ayo cepat masuk…” aku segera membuka pintu mobil dan menyuruh Hye Ri masuk.

“oppa…chakam..oppa…!!!” remaja-remaja itu masih berteriak-teriak dan berlari mengejarku, aku segera beralih ke pintu satunya lagi dan mulai mengendarai mobilku.

Aku terus mengemudi sambil mengatur nafasku, sesekali aku memandang wajah Hye Ri yang masih terengah-engah mengatur nafas, tapi.. aku melihat ia memegangi kaki kirinya. Ku hentikan mobilku di sebuah restaurant yang ternyata itu adalah restaurant Eunhyuk,

“gwaechanayo??” tanyaku sambil melihat Hye Ri yang memegangi kakinya,

“ani..gwaechana oppa..” Hye Ri tersenyum dan melepaskan pegangannya dari kaki kirinya,

“kakimu??” tanyaku lagi karena tak percaya oleh alasannya,

“ahh ani..gwaechana.. tenang saja oppa..” jawabnya tenang.

Aku keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Hye Ri,

“sudah waktunya makan malam…kita makan disini saja” kubuka pintu mobil dan memegang tangannya untuk mengajak turun, Hye Ri mengangguk, Brukk.

Shin Hye Ri_POV

Teriakan remaja-remaja itu membuat Donghae oppa kaget dan menarik tanganku lalu mengajakku berlari,

“oppa..” gumamku yang mungkin tak didengarnya, oppa terus berlari kearah mobilnya , setelah sampai didepan mobil, ia membukakan pintu dan menyuruhku masuk

“ayo cepat masuk…” aku mengangguk dan duduk manis,

“oppa…chakam..oppa…!!!” suara remaja-remaja itu masih terdengar sambil berlari kearah Donghae oppa. Donghae oppa segera menjalankan mobilnya, beberapa saat kami berdua diam mengatur nafas aihh sial.. kenapa lagi kakiku? Sesange!! Keluhku dalam hati. Pergelangan kaki kiriku terasa sakit lagi, mungkin karena belum sembuh total jadi aku masih sering merasa nyeri,

“gwaechanayo??” Donghae oppa melirikku yang dari tadi memgangi kaki kiriku,

“ani..gwaechan oppa..” aku melepaskan peganganku dan tersenyum kearah Donghae oppa, , “kakimu??” sura Donghae oppa bertanya lagi, sepertinya ia menyadari kaki kiriku sakit,

“ahh ani..gwaechan.. tenang saja oppa..” aku tersenyum kearahnya agar tidak terlalu khawatir.

Oppa keluar dari mobil dan menarikku keluar

“sudah waktunya makan malam…kita makan disini saja” katanya sambil memegangi tanganku menuntunku keluar brukk kaki kiriku tak kuat menopang tubuhku, hampir saja aku jatuh, untung ada Donghae oppa didepanku jadi aku hanya jatuh di dada oppa.

“ahh kau ini.. jika sakit bilang saja..” gumam Donghae oppa sambil membantu menegakkan badan ku,

“hmm opp..” aku belum selesai berbicara oppa langsung menggendongku,

“oppa..” aku sontak kaget mendapat perlakuan ini darinya, tetapi Donghae oppa hanya diam dan membawaku kedalam restaurant.

Ku kalungkan kedua tanganku keleher Donghae oppa agar aku tidak jatuh.

Donghae oppa menurunkanku di salah satu kursi di restaurant tersebut,

“pelayan..” Donghae oppa masih berdiri dan mengangkat satu tangan nya memanggil seorang pelayan disitu,

“ne .. ada yang bisa saya bantu?” satu orang pelayan datang menghampiri kami,

“saya minta air hangat dan sebuah handuk ya.. untuk mengkompres” oppa menujuk kakiku, pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan ku dan Donghae oppa,

“oppa.. gomawo” aku menatapnya yang berlutut dan memegangi kaki kiriku,

“ahh sudahku bilang, jika sakit bilang sakit..jangan kau tahan.. tidak baik, araseo??” oppa terus memijat kakiku, kata terakhir yang ia ucapkan bernada memerintah, aku mengangguk

“ne oppa..araseo.” jawabku terus memperhatikan Donghae oppa yang memeriksa keadaan kakiku.

Setelah pelayan yang tadi datang, Donghae oppa mulai mengompres pergelangan kakiku,

“aku tidak tahu bagaimana mengobatinya? Tapi kuharap setelah dikompres rasa sakitnya bisa sedikit berkurang” oppa terus mengkompres kakiku tanpa melihat kearahku sedikitpun,

“hmm sudahlah oppa. Sudah tidak apa-apa kok..” aku menjauhkan kaki kiriku dari Donghae oppa,

“yakin?” oppa yang dari tadi berlutut, mengangkat kepalanya dan menatapku,

“ne..” jawabku. Donghae oppa segera duduk di hadapanku dan memesan beberapa makanan, dia juga memesankan makanan untukku dan semuanya merupakan makanan yang ku sukai.

 

“Hye Ri..??” aku menoleh setelah mendengar suara Eunhyuk oppa memanggilku,

“oppa..” sahutku sambil tersenyum kearahnya,

“wah..ada Donghae juga,, tidak biasanya kau kesini berdua Donghae?..ohh ya..untuk apa baskom dibawah ini, hey..pelayan, pindahkan baskom ini!” Eunhyuk oppa duduk disampingku,

“tadinya tak ada niat makan disini, tapi karena kaki Hye Ri tiba-tiba sakit, makanya kuhentikan mobilku disini, lagian jika makan disini aku selalu mendapat diskon haha” Donghae oppa kembali melihat kakiku sambil menjelaskan,

“hmm kakimu sakit lagi?..sepertinya kau harus segera kedokter lagi Hye Ri… tidak baik dibiarkan seperti itu” Eunhyuk oppa memegang bahu dan membuatku menatapnya,

“ahh gwaechana.. hanya sedikit nyeri saja oppa, sebentar juga langsung membaik” aku menyingkirkan tangan Eunhyuk oppa dari bahuku,

“loh… memang kakinya kenapa?? Apa sering seperti ini??.. atau lukamu karena jatuh dari tangga dulu belum sembuh total??” Donghae oppa menatapku dengan mimik yang bingung dan semangat untuk bertanya

“begitulah Donghae, tulang pergelangan kaki kirinya memang sering kambuh kalau terlalu lelah dan sebagainya,, memang pengobatan yang ia lakukan dulu belum total sempurna..dasar dokter jaman sekarang… ehh maksudku jaman dulu eheh” Eunhyuk oppa menjelaskan sambil sedikit bercanda.

Karena Donghae oppa masih bingung dan tidak mengerti, aku mulai menjelaskannya dari awal sampai akhir. Dulu aku memang sempat jatuh dari tangga sekolah waktu kelas 2 SMP, bukan hanya kaki kiriku yang terluka tetapi kepala dan lenganku juga. Aku mengalami pendarahan hebat dikepala,  untungnya aku tidak gagar otak, lenganku juga hanya sedikit bengkak. Tetapi tulang pergelangan kakiku retak, entah rumah sakit yang merawatku itu tidak memiliki dokter yang bagus atau apa, aku hanya diberi obat penahan rasa sakit dan sedikit pembenaran tulang. Sesekali aku memang merasa sakit dipergelangan kakiku jika terlalu lama berdiri, berjalan apa lagi berlari, karena itulah aku tidak mengikuti pelajaran olah raga sejak kejadian itu.

 

“Hye Ri.. Donghae..Eunhyuk… wahh bertemu dengan kalian lagi” sontak aku, Donghae oppa dan Eunhyuk oppa menoleh kearah suara yang memanggil kami,

“onnie.. duduk lah..” aku tersenyum melambaikan tangan dan setelah Hyo Rim onnie mendekat, ku persilahkan duduk.

“ada acara apa ini? Mengapa aku tidak diberitahu?” Tanya Hyo Rim onnie memandang sinis,

“Ani… kebetulan saja aku bertemu Donghae dan Hye Ri disini, jadi aku menunda kepulanganku, kau sendiri ada keperluan apa datang kesini?..ohh ne, araseo.. kau pasti ingin makan gratis lagi kan? sudah mengakulah” Eunhyuk oppa menjawab sambil meledek Hyo Rim onnie,

“hmm kau memang selalu tahu apa yang aku suka Eunhyuk ahhaha”. Kami kembali berbincang-bincang, tak ada kecanggungan antara aku, Hyo Rim onnie, Donghae oppa dan Eunhyuk oppa, kami ngobrol layaknya sahabat.

Aku melihat langit sudah sangat gelap dan ku lihat jarum di jam tanganku menujukan pukul 11 malam,

“ahh aku harus pulang, kasihan Soo Bim ahjumma sendirian di rumah,” aku membereskan pakaianku dan berdiri, Donghae oppa langsung menghampiriku dan membantuku berdiri

“biar ku antar” gumamnya.

“wahh .. pekerjaanku sudah ada yang menggantikan rupanya” suara Eunhyuk oppa sedikit dibuat-buat agak jealous,

“oppa…” gumamku.

Setelah berpamitan aku dengan dibantu Donghae oppa menuju mobil Donghae oppa.

“pelan-pelan…” perintah Donghae oppa saat membukakan pintu dan membantuku masuk kedalam mobil. aku hanya bergumam mengiyakan, setelah itu Donghae oppa masuk dan mulai mengendarai mobilnya.

Lee Hyuk Jae_POV

Kami berempat mengobrol sangat akrab seperti dulu, mengenang masa lalu dan sedikit membahas hubungan Hyo Rim dan Donghae yang berakhir begitu saja. Donghae dan Hye Ri pulang terlebih dahulu.

“mengapa kau memutuskan hubungan dengan Donghae?” tanyaku setelah pelayan membersihkan meja,

“hmm karena aku sadar bahwa diantara kami tak ada cinta?” jawabnya sambil meminum teh hangatnya,

“mwo?? Bagaimana mungkin? Ku kira kalian berdua saling mencintai” aku menatapnya penuh tanya, tak kusangka Hyo Rim berkata seperti itu.

“ne.. memang tak ada… dan betapa pabbo nya aku baru menyadari itu sekarang” Hyo Rim mengaduk-aduk tehnya dan menatap kosong cangkirnya itu,

“tapi…” aku mencoba bertanya lagi tapi Hyo Rim langsung meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibirku yang membuatku diam seketika.

Sejak Donghae dan Hye Ri pulang, Hyo Rim memang pindah di sampingku.

“sstt.. kau tahu Hyuk.. mengapa aku baru menyadarinya sekarang?” aku menggeleng menjawab pertanyaannya, “ itu karena aku baru sadar, bahwa dulu aku hanya kagum padanya.. tetapi…” Hyo Rim diam sesaat

“tapi apa?? Kau menyukai orang lain??” tanyaku lagi, Hyo Rim kembali menunduk dan menatap kosong cangkir tehnya. “hmm Hyo Rim…” tegurku lirih,

“ne.. aku baru sadar aku mencintai orang lain” jawabnya cepat.

Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar pernyataan Hyo Rim, baru beberapa hari hatiku senang karena hubungannya dengan Donghae berakhir, jahat memang, tapi itu kenyataannya. Sekarang ia bilang ia mencintai orang lain, membuat kebahagianku hilang lagi.

“nu…nu..nugu??” aku memberanikan diri menanyakannya walau aku sendiri takut mendengar jawabannya.

“nugu??.. hmm..mungkin kau” jawaban Hyo Rim sekarang membuatku menatapnya, membelalakan mata sekaligus kaget.

“a..a..aku?” aku mencoba memastikan, aku takut setelah ini ia bilang aniyo…just kidding… ahhaha, aku mencoba meyakinkan diri.

“hmm..” Hyo Rim menatapku dan mengangguk.

Tiba-tiba saja jantungku yang tadi seakan berhenti berdetak, sekarang justru berdetak dua ohh tidak sepuluh kali lebih cepat.

“Wae?? Aku salah?? aku hanya bilang aku mencintaimu, aku tak berharap kau membalasnya,,, tenanglah, aku mengatakan ini hanya untuk membuat ku terbebas, agar…” aku segera menutup mulutnya dengan satu telapak tanganku sebelum ia menyelesaikan kata-katanya,

“nado…” ucapku yang membuat matanya terbelalak

“ne..nado saranghaeyo..jeongmal saranghaeyo..” aku segera menarik tubuhnya dalam pelukankan, tanpa hitungan detik ia sudah dalam pelukankan.

***

Aku mengajak Hyo Rim keluar dan ku hentikan mobil di sebuah taman, walau keadaan hujan, untung aku membawa sebuah payung besar.

“Eunhyuk… kau tahu?? Aku sempat cemburu pada Hye Ri..” Hyo Rim memecah keheningan malam di taman, aku terus memegang tangannya sepanjang jalan,

“hmmm mwo?? Kenapa kau bisa cemburu?” kuhentikan langkahku dan menatapnya,

“ne..bagaimana aku tidak cemburu? Kau memberinya bunga, kau mengantarnya, menjemputnya, mengelus rambutya, memegang tangannya… itu yang membuatku kesal beberapa hari ini” Hyo Rim menjelaskan dengan nada suara agak tinggi dan cemberut,

“ahhahaha kau ini.. Hye Ri hanya ku anggap sebagai adikku, lagian aku sengaja lebih memperhatikan Hye Ri dari pada kau, untuk mengetahui kau cemburu atau tidak ahhah”.

Shin Hye Ri_POV

Donghae oppa mengantarku tepat sampai rumah. Tapi ditengah perjalan hujan turun deras, sampai aku tiba dirumahku juga masih hujan.

“hmm bagaimana aku bisa turun?” gumamku masih didalam mobil mencari ide agar tidak basah kuyup,

“hmm chakam…” Donghae oppa turun dari mobil dan melepaskan jaketnya, ia membukakan pintu untukku

“ayo cepat..” aku hanya mengangguk dan turun.

Oppa menutupi kepalaku agar tidak terkena air hujan dengan jaketnya dan menuntunku berjalan hingga sampai didepan pintu rumahku.

“gomawo oppa.. kau basah kuyup.. masuklah dulu” aku melihat wajahnya yang sudah basah, rambutnya juga bahkan seluruh tubuhnya,

“ahh gwaechana..masuklah…”, oppa menggeleng dan memerintahkanku masuk.

Aku hanya mengangguk dan menuruti perkataannya.

Aku naik ke lantai atas, masuk ke kamarku dan merebahkan tubuhku di sofa kecil kamarku sampai akhirnya aku merasakan ponselku bergetar,

“yoboseyo…” jawabku,

“mendekat kejendela dan lihat kebawah…” aku mendengar suara Donghae oppa,

“mwo? Untuk apa?” tanyaku heran,

“sudah cepat!!” aku langsung bangkit dari sofa dan menuju kejendela, ku lihat kebawah, ommo!!!

“oppa.. cepat masuk, nanti kau sakit?” aku langsung berteriak tapi ponselku masih kugenggam dan kuletakkan ditelingaku,

“saranghamnida… jeongmal saranghamnida!!!!!” oppa berteriak sambil berdiri dibawah jendela kamarku, diguyur hujan yang sangat lebat.

“oppa chakam..!” aku segera melemparkan ponselku ke ranjang dan berlari ke bawah lalu keluar dan mendekat ke Donghae oppa,

“apa yang kau lakukan kau bisa sakit?” aku mendekat dan menarik tangannya bermaksud untuk mengajaknya masuk,

“Hye Ri… saranghaeyo..” niatku menarik tangannya justru tanganku yang ia tarik sehingga tubuhku berbalik menatapnya, aku merasa sangat dekat sekarang dengan Donghae oppa, aku tak tahu harus mengatakan apa? Aku bingung.

Bukan hanya Donghae oppa yang basah kuyup sekarang, tubuhku juga ikut basah, cuacanya sangat dingin, membuat seluruh tubuhku menggigil. Aku menatap mata Donghae oppa, ia menatapku dengan sangat tajam,

“oppa…” aku mencoba melepaskan genggaman tangan Donghae oppa tetapi hasilnya nihil, ia terlalu kuat.

“saranghaeyo…” kalimat itu lagi, aku menunduk, aku tak tahu apa yang harus aku katakan?. Hujan tak juga berhenti, perasaanku makin kacau, aku tak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini,

“oppa.. aku..” aku tetap menunduk tak bisa meneruskan kata-kataku,

“bukankah kau bilang kau akan selalu mencintaiku?” pernyataan Donghae oppa kali ini membuatku mengangkat wajahku dan menatapnya. Aku ingat dulu aku pernah bilang padanya oppa, kau baik.. gomawo.. sampai aku dan oppa besar nanti, aku akan selalu mencintai oppa, oppa adalah oppa terbaikku itu kalimatku saat masih di SD dulu, sudah sangat lama sekali, tetapi ia masih mengingatnya. “kau tahu? Aku selalu menunggumu mengatakan itu lagi” oppa terus menatapku, air hujan membuat mataku tidak bisa mendangak lama menatap Donghae oppa.

Sesaat kami berdua diam tak ada yang bicara.

“ohh..pabbonya aku, mana mungkin kau ingat, lagi pula sudah lama sekali kita tidak bertemu, mana mungkin kau mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Huh pabbo!!” Donghae oppa melepaskan tanganku dan berbalik membelakangiku,

“oppa..chakam..!” spontan aku kembali menggenggam tangan Donghae oppa, ia berbalik dan menatapku lagi

“Do You Still Love Me??” tanyanya sambil menatapku , aku memejamkan kedua mataku, memastikan apa yang aku katakan nanti adalah keputusan terbaikku. Ku tatap wajah Donghae oppa lagi, tersenyum padanya

“I Still Love You, Always Love You Forever and Ever” jawabku dengan suara yang hampir tenggelam karena suara hujan,

“mwo?? Could you repeat it again?” oppa mendekatkan telinganya,

“oppa…!!” aku melepaskan tangannya, kesal karena usahaku untuk mengatakan kalimat itu tidak didengarnya. Aku membalik tetapi Donghae oppa langsung menggenggam tanganku lagi dan menarikku kedalam pelukannya, “saranghaeyo” ucapnya lirih sambil mencium keningku.

Aku tetap berdiri dipelukan Donghae oppa, rasa sakit di kaki ku hilang sejak ia menelponku tadi. Aku tak tahu apa yang aku rasakan, tapi saat ini hanya Donghae oppa yang bisa membuatku tersenyum. Sejak dulu, aku hanya mencintainya, selalu mencintainya, selama-lamanya akan selalu mencintainya, itu adalah janjiku, janji masa kecilku.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s