Do You Still Love Me? (Part II)

Cast

  1. Lee Donghae
  2. Lee Hyuk Jae
  3. Leeteuk
  4. Hye Ri
  5. Hyo Rim

Cerita Sebelumnya

“dengan siapa kau di apartement?” tanyaku sambil terus mengolesi pergelangan kakinya.

“sendiri”

“mwo??sendiri?”

“ne..wae?”

“kenapa tidak minta ditemani Hyo Rim?”

“ani..”

“kau.. akan ku telepon Hyo Rim untuk menemanimu”

“aniyo!!”

“wae?”

“aku lebih suka sendiri”

Lee Donghae_POV

Aku menatapnya ragu, sejak kapan ia lebih suka sendiri? Bukankah dia paling tidak suka sendirian? Sejak kapan ia berubah? Apa kota Paris mengubah kehidupannya? Apa sifatnya juga berubah? Oppa, jangan pergi..aku takut disini sendirian aku masih ingat kalimat itu sering ia ucapkan saat aku akan pergi dan meninggalkan nya sendiri dirumah. Orang tua Hye Ri memang tidak tinggal di Seoul, keduanya sekarang ada di Tokyo, Jepang. Maklum memang mereka orang tua yang sibuk, tetapi aku tidak menyangka kota Paris mengubahnya menjadi tidak takut sendirian lagi.

“oppa…” suara Hye Ri membuyarkan lamunanku,

“kau melamun, aku lelah memanggilmu terus sejak tadi” jelasnya dengan nada datar,

“ahh mianhae..” aku segera bangkit dan menggendongnya masuk kedalam mobil.

Ku kendarai mobilku menuju apartementnya, untung saja apartementnya tak begitu jauh dengan apartementku.

“Hye Ri..” aku memecah kebisuan antara kami,

“ne..” ia menoleh dan menatap kearahku,

“sejak kapan kau tidak takut sendirian lagi?” aku tak tahu dari mana kalimat pertanyaan itu datang, tiba-tiba aku ingin menanyakan itu dan keluar begitu saja tanpa ku cerna terlebih dahulu.

“aniyo.. aku masih takut sendirian..” jawabnya sambil mengalihkan pandangannya kedepan,

“lalu.. tadi kau bilang…” aku tak bisa meneruskan kalimat pertanyaanku,

“aku tidak sendiri..sungguh…” jawabnya sambil tersenyum,

“tapi tadi..” belum selesai aku bicara, ia langsung menyelanya,

“Hyuk oppa selalu menemaniku…” aku kaget dan sentak langsung memperlambat laju mobilku dan menatapnya,

“ne.. dia menemaniku dengan webcam..”

Mendengar kalau Eunhyuk selalu menemaninya jantungku berdebar dua kali ohh tidak 10 kali lebih cepat, tapi saat dia bilang dia menemaniku dengan webcam sedikit membuatku tenang.

“ahh gomawo oppa” Hye Ri turun dan menunduk berterimakasih,

Aku melihatnya sampai ia masuk kedalam dan tidak bisa dilihat lagi. Aku segera berbalik dan menuju mobilku lagi.

***

            Aku tak menyangka hari ini aku bisa bertemu dengan yeoja itu lagi, sama sekali tak pernah ku sangka. Aku berharap ini bukanlah mimpi dan aku tahu ini memang bukan mimpi. Oppa malam ini kita makan malam bersama ya? Ohh aniyo!! Aku melompatdari atas tempat tidurku, segera ku cari ponsel yang tadi kuletakkan di atas meja makan. Sesange! Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Jam berapa ini? Aku menoleh melihat jam di ruang tengah,

“ohhh NO!!” teriakku ketika melihat jarum jam menunjuk pukul 12 malam,

“Yoboseyo..” suaranya menjawab panggilanku,

“ahh Hyo Rim.. aku…” belum sempat aku meminta maaf dan lain-lain,

“ahh aku tahu, kau ingin meminta maaf bukan? Sudah lah, kau sudah sering seperti ini, dan aku juga tadi tidak menunggumu kok, untung ada eunhyuk yang menemaniku, jadi aku tak mati bosan dan kesal” celoteh yeojaku ini,

“ohh syukurlah…”. Setelah benar-benar memastikan tak ada kemarahan dari Hyo Rim,

Aku menutup ponselku dan bergegas menuju tempat tidurku.

Choi Hyo Rim_POV

Kesal?? Tentu saja aku kesal, bagaimana mungkin ia melupakan janjinya? Ohh araseo, tunggu aku di restaurant eunhyuk begitu kata-kata terakhirnya sebelum pergi meninggalkanku. Aku menunggu satu jam lebih, untung saja eunhyuk belum pulang saat itu, jika tak ada eunhyuk mungkin aku sudah mengamuk di restaurant sahabatku itu.

Pagi ini masih dengan kesibukan yang menemaniku, dan aku yakin Eunhyuk pasti menjemputku. Sedang asik melamun aku mendengar lagu BANG by AS dari ponselku,

“yoboseyo..aku segera turun” tak menunggu lama Eunhyuk sudah berada di depan apartementku.

Dia sahabat yang baik bukan?, bahkan lebih baik dari namjaku sendiri.

Aku segera naik ke dalam mobil Eunhyuk yang berwarna merah itu,

“padat lagi?” tanya Eunhyuk setelah menjalankan mobilnya,

“begitulah.. kau tahu akhir-akhir ini banyak desainer yang menghubungiku.. huh” keluhku sambil duduk menatap kejendela memandangi kota Seoul di pagi hari.

“jika kau lelah, sebaiknya beristirahatlah dulu.. tidak baik terhadap kesehatanmu” lanjut Eunhyuk, aku mengalihkan pandanganku ke arahnya.

Ku tatap ia, aku berpikir kenapa dia lebih memperhatikanku dari pada namjaku sendiri? Kalimat itu selalu muncul di otakku ketika Eunhyuk mengkhawatirkanku.

“Hyo Rim…” suara Eunhyuk membuyarkan lamunanku,

“ahh Aniyo.. kau tahu aku suka dunia modeling, dan aku tak boleh mengacaukan usaha kerasku selama ini” jawabku menjelaskan.

Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan akhirnya aku sampai di butik yang sudah sangat terkenal itu d’rose butik yang menjadi idaman para model. “gomawo eunhyuk-ssi…” aku berterimakasih dan segera turun dari mobilnya lalu melambaikan tangan kearah mobil Eunhyuk tersebut.

Walau butik ini sangat terkenal, tetapi aku belum pernah bertemu dengan pendirinya. Aku dengar butik ini didirikan oleh seorang wanita muda yang cantik dan pintar.

“onnie!” suara seorang yeoja membuatku tersentak,

“hah..” aku menoleh kearah suara tersebut,

“ommo!! Hye Ri…” aku segera berlari dan memeluk yeoja tersebut, ne.. sahabat lamaku.

“sedang apa kau disini? Kapan kau pulang? Ohh sepertinya kau tidak bertambah tinggi haha” aku langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

“hmm ini butikku, wajar bukan onnie jika aku ada disini” jawabnya sambil menggandeng tanganku menuju sebuah bangku panjang.

Aku duduk manis bersama Hye Ri dan berbincang banyak, aku terkejut saat ia tahu aku dan Donghae sudah pacaran sejak satu bulan yang lalu. Hye Ri bilang semua itu diceritakan oleh Eunhyuk.

“wahh Eunhyuk itu.. ternyata sering membicarakanku ya ahhaa..” aku tertawa kecil mendengar penjelasan Hye Ri,

“hmm kau tahu Hye Ri..” Hye Ri hanya menggeleng dan memfokuskan matanya kearahku,

“Eunhyuk tak pernah memiliki kekasih sejak dirimu pergi, entah apa yang ia pikirkan, padahal ia pengusaha yang sukses, ia tinggal menunjuk yeoja yang ia suka dan aku yakin yeoja itu takkan menolak” aku bercerita sambil duduk menghadap kearah Hye Ri,

“ada kok onnie, dia mencintai seorang yeoja sejak aku pergi atau bahkan sebelum aku pergi” aku membelalakan mataku mendengar  penjelasan Hye Ri,

“tapi sayangnya, ia hanya bisa mencintai yeoja itu dan melakukan apapun untuk yeoja itu tanpa bisa memilikinya sekarang..” lanjut Hye Ri bercerita dan diakhiri dengan senyumannya.

***

            Aku segera meninggalkan butik Hye Ri, dan melanjutkan pekerjaanku. Beberapa sesi pemotretan hari ini cukup membuat tubuhku lelah.

“Hyo Rim…” aku mendengar seseorang memanggilku dan aku sudah tahu itu suara siapa

“ah Eunhyuk..” aku segera mengambil tasku dan berlari kearahnya,

“sudah datang..” tungkasku melihat Eunhyuk yang berdiri didepanku,

“tentu saja.. kita pulang sekarang?” tanyanya sambil mengelus rambutku dan ku jawab dengan sebuah anggukan kepala.

Eunhyuk mengantarku sampai depan apartementku, setelah berterimakasih dan melambaikan tangan, aku segera masuk kedalam apartementku. Hari ini hanya Eunhyuk dan Hye Ri yang menemaniku mengobrol sedangkan namjaku sendiri.. huh.. aku tak tahu harus bagaimana? Baru satu bulan, tapi aku merasa Donghae tak benar-benar mencintaiku. Apa lebih baik aku mengakhiri ini semua?.. “ahh!!!” aku berteriak sendiri, kesal menghadapi seorang Lee Donghae.

Sudah malam tetapi kenapa aku lapar? Kataku dalam hati. Akhirnya aku mengunci pintu apartementku dan berjalan keluar mencari makan.

Lee Hyuk Jae_POV

Setelah mengantar Hyo Rim pulang dengan selamat, aku kembali ke restaurantku karena Hye Ri sudah menunggu disana. Di perjalanan menuju restaurant aku berhenti di toko bunga untuk membelikan seikat bunga mawar untuk Hye Ri.

aku melihat Hye Ri duduk didekat jendela dan memandang keluar, terlihat jelas ia sedang melamun, pandangannya benar-benar kosong.

“ehem…” aku mencoba membuyarkan lamunannya,

“Hye Ri…!!” kataku agak meninggi setelah menanggapi tak ada respon dari Hye Ri,

“ ah.. oppa.. kau sudah datang”  Hye Ri tersentak dan menatapku dengan senyumannya.

Aku segera duduk disampingnya,

“untukmu…” segera aku serahkan bunga yang sempat kubelikan tadi,

“mwo? Hmm gomawo..” Hye Ri sedikit tak mengerti tetapi ia tetap menerima bunga mawar pemberianku.

***

“mengapa tak katakan pada onnie?” tanya Hye Ri setelah kami berbincang tentang kepulangannya,

“haruskah? Kurasa sudah terlambat” jawabku sambil menundukan kepala,

Tak tahu harus bagaimana lagi menanggapi perasaanku pada Hyo Rim, sudah terlambat.. hanya kata-kata itu yang terngiang di telingaku.

“jika sudah terlambat, mengapa kau tetap mencintai onnie?.. jangan katakan cinta tak harus memiliki!” Hye Ri memandang lurus kearahku,

Matanya seolah mengatakan apa yang aku lakukan sekarang ini salah. menatap matanya aku hanya bisa diam tanpa tahu apa yang harus aku katakan,

“oppa…” Hye Ri terus menatapku, ku lihat lagi tatapan itu  “kau boleh mencintai seseorang.. tak ada yang salah, bahkan seseorang yang sudah memiliki kekasih…” Hye Ri menarik nafas sebentar lalu melanjutkan perkataannya “tapi… apa kau akan terus mencintainya, bagaimana jika ia menikah? Jika ia sangat mencintai pasangannya? Dia tak tahu perasaanmu….” Hye Ri memejamkan matanya sebentar dan melanjutkan tatapannya

“kau tahu? Kau sudah berkorban banyak untuk onnie.. aku tak pernah melarangmu untuk itu, tapi apa kau akan terus berkorban untuknya? Apa hidupmu akan kau habiskan hanya untuk mencintainya? Huh… sudahlah, aku tak tahu harus berkata apa lagi, sepertinya percuma saja berbicara padamu oppa” Hye Ri berhenti menatapku dan memalingkan wajahnya kearah jendela lagi.

Aku diam memikirkan kata-kata Hye Ri, salah? benarkah apa yang aku lakukan ini salah? aku mencoba mencerna kata-kata Hye Ri,

“jadi… apa aku harus berhenti mencintainya?” aku menatap wajah Hye Ri yang menatap ke arah jendela yang langsung tersentak mendengar ucapanku,

“apa aku haru…” aku belum menyelesaikan kalimatku, Hye Ri langsung membungkam mulutku dengan sebelah tangannya.

“aniyo.. jika kau mencintainya, teruslah mencintainya.. tapi…” Hye Ri melepaskan tangannya dari mulutku, “janganlah mengorbankan dirimu sendiri oppa…” lanjutnya.

Aku kembali diam,

“hmm araseo!! Jika begitu aku akan berhenti untuk terlalu memperhatikannya” aku berdiri dan mengepalkan kedua tanganku,

“oppa… maksudmu?” Hye Ri menatap heran, aku segera kembali duduk dan menatapnya.

“mulai sekarang.. aku tidak lagi mengantar jemput Hyo Rim…” Hye Ri terlihat tersenyum mendengar kata-kata,

“sekarang aku akan mulai mengantar jemputmu..” aku menggenggam bahunya dan tersenyum kecil.

“hah?? Ani ani.. aku bukan anak kecil lagi oppa. Aku tak perlu kau antar jemput..” Hye Ri langsung mengangkat kedua tangannya dan menolak,

“kau tak ingin membantuku…” aku menatap tajam kearahnya.

***

 

Beberapa jam berbincang dengan Hye Ri belum cukup membuat rasa rinduku padanya hilang. Baru saja aku berniat mengajaknya keluar….

“annyeong!!!” suara Donghae terdengar sangat jelas,

“Donghae..wahh sempat juga kau mampir kesini..mari” aku berdiri dan bergeser untuk memberi tempat duduk pada Donghae,

“ahh aku sedang tidak sibuk malam ini dan merasa sangat lapar, maka dari itu aku kesini.. tak disangka ada tamu jauh dari paris ternyata ehhe” ledek Donghae sambil duduk disamping Hye Ri,

Tak ada tanggapan dari Hye Ri, dia tetap memandang kosong keluar jendela.

“Hey.. kau tak mendengarku?” Donghae mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah Hye Ri,

“hah?? Ohh.. oppa.. kenapa kau ada disini?” Hye Ri tersentak kaget.

“huh kau ini..” Donghae mengacak-acak rambut Hye Ri dengan lembut.

Aku segera memesankan makanan untuk kami, sejak Donghae datang Hye Ri jarang sekali berbicara hanya sepatah dua patah kata yang ia ucapkan.

“oppa.. aku lelah.. aku pulang duluan ya?” Hye Ri tak memakan makanannya dan beranjak dari kursinya,

“hmm biar ku antar..” seru Donghae dan ikut beranjak dari kursinya,

“hey!! Wahh tak kusangka semuanya berkumpul disini” suara yeoja dari pintu masuk membuat pandangan kami bertiga tertuju padanya,

“Hyo Rim…” panggilku setelah melihat ia menghampiri kami, “hmm kebetulan sekali, kita bisa reunian disini” seru Hyo Rim yang sudah berada disamping Donghae.

Ohh, tentu saja ia memilih di samping Donghae, dia kan namjachingu nya.

“hmm mianhae onnie, aku sudah sangat mengantuk.. aku pulang duluan ya?” Hye Ri mengambil tas dan bunga yang ku berikan tadi dan beranjak keluar dari meja,

“chakam..sudah ku bilang biar ku antar” Donghae menahan tangan Hye Ri dan mendekat padanya,

“ahh tidak perlu oppa, ada onnie, lebih baik kalian bertiga tetap disini” Hye Ri melepaskan genggaman tangan Donghae,

“ahh biar aku saja yang antar, kau temani Hyo Rim disini..bye..jumuseyo” aku segera menarik tangan Hye Ri dan membawanya keluar restaurant.

Hye Ri hanya bergumam kecil tanpa bisa ku dengar dengan jelas.

Shin Hye Ri_POV

Eunhyuk oppa menarik tanganku dan membawaku pergi,

“oppa aku…” aku sedikit bergumam mencoba menolak, tetapi sepertinya ia tak mendengar perkataanku.

“masuklah…” Eunhyuk oppa membukakan pintu mobilnya,

Aku hanya mengangguk dan duduk manis. Hyuk oppa mulai mengendarai mobilnya,

“kau benar-benar ingin pulang?” Eunhyuk oppa terus menatap kedepan,

“hmm” aku hanya bergumam.

“hmm bagaimana jika kau ke rumahku? Aku yakin omma pasti senang melihatmu?” tawar Eunhyuk oppa tetap dengan pandangannya yang terfokus pada jalan didepannya,

“hmm”

Aku hanya mengangguk.

“annyeong…omma lihatlah siapa yang bersamaku sekarang?” teriak Hyuk oppa membuka pintu dan menarikku masuk,

“mwo? Siapa?…” ahjumma berteriak dari dapur,

“ohh ommo!! Ohh dear…” ahjumma berlari kearahku setelah ia keluar dari dapur,

“kapan kau sampai? Kenapa tubuhmu tak bertambah gemuk? Sepertinya kau kurusan?” ahjumma memelukku dan memandangi tubuhku dari atas hingga bawah,

“omma.. dari mana kau tahu ia kurusan? Sudah enam tahun kau tak melihatnya” tungkas Eunhyuk oppa sambil merebahkan tubuhnya di sofa,

“ahh aku baru beberapa hari di Seoul omma” aku tersenyum manis pada ahjumma,

Aku memang memanggil ahjumma ini dengan omma, mungkin karena aku tak pernah memanggil omma ku dengan sebutan omma.

Sejak kecil aku memanggil orang tua ku papa dan mama, mungkin karena aku bukan keturunan orang korea asli. Papa merupakan keturunan Prancis-Korea dan mama keturunan China-singapur, jadi wajahku tidak seperti orang korea asli, tubuhku juga.

“duduk dulu sayang… omma buatkan coklat panas untukmu” omma menuntunku duduk di sofa tepat disamping Eunhyuk oppa,

“aneh..lihatlah, sepertinya yang menjadi anaknya itu kau bukan aku” Eunhyuk oppa menatapku dengan wajah yang memelas,

“hmm” aku hanya membalas dengan senyuman,

“jika kau cantik dan pintar seperti Hye Ri.. omma juga akan bersikap manis terhadapmu Hyuk..” teriak omma yang mendengar perkataan Eunhyuk oppa,

“apa omma mau anakmu yang tampan ini menjadi banci” keluh Hyuk oppa,

“oppa..” tegurku mendengar perkataan Eunhyuk oppa.

***

            Kebersamaanku dengan keluarga Eunhyuk oppa membuatku sangat bahagia, tak ada jarak antara kami. Omma selalu menganggapku anaknya sendiri. Setelah omma pamit duluan untuk tidur, aku hanya mengobrol berdua dengan Eunhyuk oppa di taman rumahnya.

“sepertinya Donghae cemburu padaku” sentak ucapan Eunhyuk oppa tadi membuatku kaget,

“mwo? Maksudnya oppa?” tanyaku tak mengerti,

Oppa menatapku dengan mengangkat alisnya

“sepertinya ia menyukaimu..” pandangan Eunhyuk oppa membuatku tak dapat menjawab pertanyaannya.

Aku memalingkan wajahku dan tak menatapnya lagi,

“hmm jadi.. apa kau masih menyukainya?” Eunhyuk oppa mengubah sorot matanya dan menatap ke langit,

“mwo?” aku menoleh lagi, “ne.. masihkah?” tanyanya lagi tanpa memalingkan wajah dan tetap menatap kelangit,

“Aniyo… aku sudah mengubur perasaanku sejak meninggalkan Seoul”

“kalau begitu, kau membongkarnya lagi?”

“mwo? Maksudmu?”

“kau sudah berada di Seoul lagi sekarang, berarti kau membongkar perasaan yang kau kubur dulu bukan?”

Aku menggeleng “Aniyo.. aku lupa perasaan itu, bagaimana perasaan itu? Seperti apa perasaan itu? Aku sudah melupakannya” aku ikut menatap langit yang dihiasi bintang malam ini.

“hmm.. bisa kau ajari aku bagaimana melupakan perasaan seperti itu?” oppa mulai memandang kearahku,

Aku menggeleng, “jangan minta bantuanku.. karena itu hanya kau yang bisa mengatasinya”

***

To Be Continue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s