Do You Still Love Me?

Cast

  1. Lee Donghae
  2. Lee Hyuk Jae
  3. Leeteuk
  4. Hye Ri

Lee Donghae_POV

Hari ini tepat enam tahun setelah yeoja kecil itu pergi, aku masih ingat saat ia tersenyum, menangis, bahkan saat ia marah terhadapku. Enam tahun sudah aku tak mendengar suara dan melihat wajahnya. Oppa bisakah kau ambilkan buku diatas itu? Aku tidak sampai, terlalu tinggi, kalimat itu masih teringang jelas ditelingaku dan ketika yeoja itu memasang wajahnya penuh harap aku hanya bisa mendekat dan membantunya mengambil buku yang ia tunjuk.

Oppa mengapa kau selalu baik padaku?, satu pertanyaan itu sempat membuatku terdiam pada saat itu, karena kau adalah dongsaeng dan sahabat terbaikku begitu kira-kira aku menjawab pertanyaannya. Sebenarnya, pada saat itu yang ingin aku ucapkan adalah karena aku menyayangimu, tapi aku mencoba untuk menelan kalimat itu dan mengeluarkan kalimat yang lainnya. Karena bagiku, dulu aku dan dia masih terlalu kecil untuk bermain-main dengan cinta.

“Donghae!! Mau sampai kapan kau melamun disitu??” teriakan leeteuk hyung memecahkan lamunanku,

“ahh mianhae, aku segera kesana” segera ku masukan foto yang sejak tadi aku pandangi. Leeteuk hyung adalah managerku, hari ini seharian penuh ia menemaniku, tentu saja, dia kan managerku.

***

            Hari yang sangat melelahkan, aku baru saja pulang dari Sanghai dan harus menyelesaikan syuting video clip untuk single terbaruku. Untung saja aku mempunyai manager seperti Leeteuk hyung,

“Donghae, ini untuk mu” hyung memberiku segelas teh hangat dan aku segera menerimanya lalu meneguknya.

“gomawo hyung, untung saja ada dirimu, jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku sekarang” keluhku sambil menaruh tehku dimeja dan merebahkan tubuhku diatas sofa coklat di apartementku. Hyung mengikutiku dan duduk disampingku,

“ohh bukankan itu tugas seorang manager Donghae?” Hyung merangkulku dengan sebelah tangannya,

“dan lebih baik kau istirahat sekarang, sebelum besok kau diteror oleh Hyo Rim.. haha” lanjutnya sambil tertawa.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan hyung dilanjut dengan langkahku menuju tempat tidurku dan mengucapkan jumuseyo pada leeteuk hyung.

Lee Hyuk Jae_POV

“jeongmal??” aku membelalakan mataku menatap layar laptopku.

“ne oppa…”jawab Hye Ri. Aku memang sedang webcam-an dengan Hye Ri,

Aku sering melakukan kegiatan ini,hmm tidak.. bukan sering, tapi setiap malam, karena Shin Hye Ri lah satu-satunya teman curhatku.

“ohh kalau begitu, biar ku jemput kau di bandara, eotteohge??” lanjutku sambil mendekatkan wajahku kedepan layar laptop,

“ahh aniyo.. tidak perlu dan kau tak usah mendekatkan wajahmu seperti itu, terlihat lebih buruk” dia mengangkat kedua tangannya sambil berkata tidak dan tersenyum.

“mwo?? Chakam.. buruk?? Apa maksudmu?” ku kerutkan kening dan kunaikkan alisku serta menatapnya tajam,

“aniyo oppa, just kidding,, hmm”

Aku tak pernah menyangka Hye Ri akan kembali ke Seoul setelah enam tahun ia meninggalkanku, hmm bukan, maksudku… kami, ya.. kami bertiga. Sejak lulus dari sekolah menegah pertama ia memang meninggalkan Seoul, untuk melanjutkan HighSchoolnya di Paris dan kuliah di London.

Aku ingat saat kami berempat selalu bersama, ya.. aku, Hye Ri, Donghae dan Hyo Rim. Kami tak terpisahkan, bahkan walau Hye Ri berbeda satu tahun setengah dengan kami, ia bisa menyamai kami. Hmm, maksudnya.. ia bisa satu kelas dengan kami. Kecerdasan Hye Ri lah yang membuat ia bisa satu kelas dengan kami… yap… ia mendapat akselerasi pada kelas 5 SD, jadi ia langsung naik ke kelas 6 tanpa merasakan kelas 5. Sebenarnya, ia mendapatkan akselerasi lagi pada kelas 2 SMP tetapi ia menolaknya, aku ingin bersama-sama Hyuk oppa, Hae oppa dan Hyo Rim onnie.. begitu kira-kira alasannya menolak akselerasi itu.

Sejak kepergiannya ke paris, yang terus berhubungan baik dengan nya hanya aku seorang. Melalui email aku terus menghubunginya tanpa sepengetahuan Donghae dan Hyo Rim, itu semua juga atas permintaan Hye Ri dan persetujuanku tentunya.

***

Sudah malam tetapi Hye Ri tak menelponnya, dia bilang dia akan sampai siang hari. Aku terus duduk di ruang kerjaku, aku memang mendirikan sebuah retaurant dan itu cukup atau bahkan lebih untuk membiayai hidupku dan kedua orang tuaku. Tiba-tiba terdengar lagu sorry-sorry yang dinyanyikan oleh Boy Band yang terkenal super junior dari ponselku.

“Yoboseyo…ahh  Hye Ri..” aku menekan tombol answer setelahku lihat nama Hye Ri terlihat di layar ponselku,

“oppa, aku sudah di seoul sejak beberapa jam yang lalu, jeongmal mianhae baru bisa menghubungimu” Hye Ri berbicara diiringi suara gaduh,

“ne..gwaechana.. sekarang kau dimana?.. apa sudah dirumah??” tanyaku sambil beranjak dari kursi dan berjalan menuju jendela kantorku,

“aku sedang di pasar malam,, hmm sepertinya untuk beberapa hari ini aku akan tinggal di apartement Sakura, rumahku masih dirapihkan oleh Soo Bim ahjumma” jawabnya lagi tetap dengan suara gaduh dibelakangnya,

“ohh araseo.. aku akan menyusulmu dan mengantarmu ke apartement, bisakah kau menungguku?” tanyaku cepat, kututup jendela kantorku dan melangkah keluar kantor.

“ahh tidak perlu, aku sedang ingin sendiri, mungkin besok aku akan menemuimu oppa.. tak apa-apa kan?” sela nya langsung,

“ohh ne.. jika itu maumu”

Shin Hye Ri_POV

“ohh ne.. jika itu maumu” Hyuk oppa pasrah mendengar pengelakanku. Ku tutup ponselku dan memasukannya lagi kedalam tas kecil yang ku bawa.

Sudah enam tahun, ne… sudah enam tahun sejak aku meninggalkan Seoul dan memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Paris dan Kuliah di London. Banyak kenangan masa kecilku di kota ini dan tak banyak perubahan yang mencolok yang aku lihat. Hanya jalanan yang sekarang lebih banyak dan rapih serta bertambahnya gedung-gedung pencakar langit.

Aku berhenti di café untuk menikmati cappucino bersama malam minggu di kota Seoul. Setelah meneguk satu gelas cappucino, aku segera keluar café tersebut dan melangkah pergi.

Brukk “ah” aku merintih pelan, aku rasa aku menabrak seseorang.

“ohh Mianhae, ahgassi..” suara namja yang aku dengar dan aku masih memastikan kakiku tidak terkilir,

“hmm gwaechana, aku baik-baik saja.. nado mianhae” jawabku cepat setelah menyadari namja itu masih berada di dekatku.

Aku tidak memandang wajah namja itu dan masih sibuk memastikan bahwa kakiku benar-benar tidak terkilir.

“kakimu sakit??” ternyata namja itu masih berada disampingku, aku segera menoleh kearahnya

“ahh gwaechana ak..” aku tertegun melihat wajah namja itu, matanya.. tatapan mata itu, ahh aniyo! Aku pasti salah lihat, ini sudah terlalu malam.

“Hye Ri??” aku mendengar dan melihat namja itu menyebut namaku dan menatapku,

“kau Hye Ri bukan??” tanya namja itu sekali lagi.

Aku masih kaget mendengar namja itu tahu namaku, aku melihatnya dengan seksama, memastikan bahwa pengelihatanku ini benar.

“Hye Ri.. ommo!! Kau sudah kembali…” namja itu memegang pundakku dan mengguncangkan tubuhku,

“ahh stop! Sakit oppa” rintihku setelah menyadari bahwa mataku tidak salah, dia memang… dia benar-benar..benar-benar Donghae oppa.

***

 

Namja itu sekarang berada di sisiku, tak kusangka kami akan bertemu begini cepat.

“mengapa kau tak pernah menghubungi kami??” Donghae oppa menghentikan langkahnya yang membuatku juga menghentikan langkah kakiku.

“hmm” aku tak menjawab hanya menarik nafas sedikit,

“ne.. mengapa tak menghubungi kami?” yap.. kami yg dimaksud pasti dia, Hyuk oppa dan Hyo Rim onnie,

“aniyo..aku…” entah apa yang aku ingin katakan, otakku berpikir keras menyusun kata-kata, tetapi… tak ada satu kalimatpun yang dapat aku ucapkan.

“apa kau berniat melupakan kami??” tanya Donghae oppa lagi sambil menatapku dengan mengkerutkan keningnya,

“ahh aniyo!!!” aku mengangkat kedua tanganku hingga setinggi dada dan mengibas-ibaskannya seolah melambangkan pengelakan,

“aku terus menghubungi Eunhyuk oppa” lanjutku, “sering.. ahh bukan.. setiap malam bahkan”.

Donghae oppa diam sesaat dan menatapku lagi,

“mwo?? Jeongmal?? Mengapa Eunhyuk tak pernah menceritakannya padaku? Kau sedang tidak berbohong kan?” Donghae oppa mengangkat alisnya dan menatapku tidak percaya,

“ne..jeongmal!.. oppa bisa bertanya pada eunhyuk oppa” jawabku cepat,

“aku dan hyuk oppa mema…” belum selesai aku menjelaskan,

“ahh Donghae….itu Lee Donghae!!! Huahhh oppa!!!” gerombolan gadis remaja menunjuk-nunjuk kearah kami.

“gawat!!! Kajja!” Donghae oppa memukul keningnya lalu menarik pergelangan tanganku dan berlari.

Mau tidak mau aku ikut berlari dibelakangnya dan tanganku terus di genggamnya.

Kami sudah berlari cukup lama dan akhirnya Donghae oppa berhenti berlari. Aku masih kesulitan mengatur nafasku,

“ehhh mianhae.. kau jadi ikut-ikutan lari..heehh”

Donghae oppa berbicara sambil terus mengontrol nafasnya dan aku hanya mendengarkan tanpa bisa berkata apapun karena dadaku masih sesak. Setelah beberapa detik,

“kau tak apa-apa??” tanya Donghae oppa sambil menatapku, aku hanya mengangkat satu tanganku seolah menandakan aku baik-baik saja.

Kurang lebih tiga menit aku diam dan nafasku mulai stabil lagi, Donghae oppa menarik tanganku lagi, tetapi kali ini ia tak mengajakku berlari. Ahh sial..kenapa kambuh lagi? Gumamku dalam hati setelah menyadari pergelangan kaki kiriku terasa sakit.

“naik lah..” Donghae oppa membukakan pintu mobil dan aku hanya patuh duduk di kursi depan mobil tersebut.

Oppa menutup pintu mobilnya dan berlari membuka yang satu lagi lalu duduk di tempat pengemudi. Perlahan oppa langsung menancap gas mobilnya.

“mianhae.. aku tak bermaksud mengajakmu lari malam-malam seperti ini..jeongmal mianhae” suara Donghae oppa terdengar seperti suara seseorang yang menyesal yahh memang sangat terdengar orang yang menyesal,

“ahh gwaechan oppa..”jwabku singkat dan menatap kedepan.

Beberapa saat suasana didalam mobil hening, Donghae oppa tak bersuara begitu pula denganku.

“oppa..stop..sebaiknya aku turun disini” Donghae oppa memberhentikan mobilnya tepat dipinggi taman kota,

“biar ku antar kau pulang, dimana kau tinggal sekarang? masih rumahmu yang dulu?” tanya Donghae oppa sambil menatapku,

“ahh tidak usah oppa, untuk sementara waktu aku tinggal di apartement Sakura, tapi aku bisa pulang sendiri… gomawo” setelah berterimakasih aku segera turun dari mobil dan melangkah menuju taman,

Ahh ommo!! Sesange!! Kumohon jangan sekarang keluhku lagi dalam hati saat aku menyadari pergelangan kakiku terasa sangat sakit, tanpa sadar aku memegangi paha kaki sebelah kiriku.

“Hye Ri… kau baik-baik saja? Ada apa dengan kakimu?” Donghae oppa yang mungkin melihat cara berjalanku pincang segera turun dari mobil dan berlari kearahku.

Lee Donghae_POV

Aku menatapnya keluar dan berjalan menuju taman. Ohh kenapa dia? Mengapa jalannya pincang seperti itu?, aku segera mematikan mesin mobilku dan berlari mendekati Hye Ri.

“Hye Ri… kau baik-baik saja? Ada apa dengan kakimu?” tanyaku panik, aku langsung berlutut dan mengecek keadaan kaki kirinya.

“ahh gwaechana oppa, aku tak apa.. mungkin ha..” sebelum Hye Ri selesai mengucapkan kalimatnya, aku segera berdiri dan membopohkan menuju bangku di pinggir taman,

“oppa..!” Hye Ri sepertinya sedikit kaget, tetapi untungnya ia tak mengelaknya.

“chakam…” kataku setelah berhasil membawanya ke bangku taman,

Tanpa mendengar kata-katanya aku segera berlari kedalam mobil dan mencari kotak P3K yang pernah Leeteuk hyung simpan untuk jaga-jaga jika aku kenapa-napa.

“ini dia..”gumamku sendiri, setelah menemukan kotak tersebut aku berlari lagi kearah Hye Ri yang masih duduk di bangku taman.

“bagian mana yang sakit?? Apa ini sakit??” aku segera berlutut dan memegang pergelangan kaki Hye Ri, mencoba mengecek bagian yang mungkin terkilir,

“hmm aniyo..”jawabnya seolah baik-baik saja, aku tahu jelas mimik wajahnya menandakan ia kesakitan.

“Hye Ri.. kumohon jangan berbohong..sakit tidak?” tanyaku dengan nada suara agak meninggi dan menatap wajahnya,

“araseo..sedikit..” ia menjawab dengan mimik wajah yang sama, masih terlihat bahwa kakinya benar-benar sakit,

“Hye Ri!!!” aku tak sadar mengucapkan namanya seolah membentaknya,

Mungkin karena aku terlalu kesal dengan sikapnya yang menganggap dirinya baik-baik saja.

Hye Ri menatapku,

“Ne oppa.. sakit” jawabnya langsung,

“semoga ini bisa membantu mengurangi rasa sakitnya” aku segera mengolesi salap yang menurut Leeteuk hyung bisa membuat bagian tubuh yang bengkak dan sakit agak sedikit berkurang.

“dengan siapa kau di apartement?” tanyaku sambil terus mengolesi pergelangan kakinya.

“sendiri”

“mwo??sendiri?”

“ne..wae?”

“kenapa tidak minta ditemani Hyo Rim?”

“ani..”

“kau.. akan ku telepon Hyo Rim untuk menemanimu”

“aniyo!!”

“wae?”

“aku lebih suka sendiri”

To Be Continue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s